
KUNINGAN – Ciremai Langit Institut menggelar simposium politik bertajuk refleksi Pemilu 2024 dan harapan menuju Pemilu 2029. Kegiatan tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus wadah pertukaran gagasan untuk memperkuat kualitas demokrasi di Kabupaten Kuningan.
Kegiatan yang berlangsung di Teras Pendopo Kuningan, Rabu (8/7/2026), menghadirkan berbagai unsur, mulai dari akademisi, pengamat politik, penyelenggara pemilu, hingga perwakilan partai politik.
Dalam forum tersebut, peserta maupun narasumber membahas berbagai catatan penting dari penyelenggaraan Pemilu 2024 serta merumuskan rekomendasi untuk menghadapi Pemilu 2029.
Founder Ciremai Langit Institut, Eka Febrian Nugraha, menyampaikan bahwa simposium digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap perkembangan demokrasi, khususnya di tingkat daerah.
Menurutnya, refleksi terhadap Pemilu sebelumnya menjadi langkah penting agar penyelenggaraan demokrasi ke depan dapat berjalan lebih baik.
“Pemilu bukan hanya tentang memilih pemimpin, tetapi bagaimana masyarakat memahami hak dan tanggung jawab demokrasinya. Melalui simposium ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog dari berbagai perspektif agar menjadi bahan evaluasi dan menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat untuk pemerintah daerah serta masyarakat Kuningan,” ujar Eka.
Ia berharap hasil diskusi dalam kegiatan tersebut dapat menjadi masukan dalam meningkatkan partisipasi politik masyarakat dan memperkuat kualitas penyelenggaraan Pemilu 2029.
Sementara itu, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kuningan, Khadafi Mufti, yang hadir mewakili Bupati Kuningan, mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Ciremai Langit Institut.
Ia menyampaikan bahwa Pemilu 2029 merupakan bagian dari perjalanan sejarah demokrasi yang perlu dipersiapkan secara serius. Salah satu evaluasi penting dari Pemilu 2024 adalah masih adanya masyarakat yang belum menggunakan hak pilihnya.
“Terbentuknya Pemilu 2029 menjadi bagian dari sejarah yang perlu digarisbawahi. Berdasarkan hasil evaluasi KPU maupun Bawaslu, masih ada pemilih yang belum menyampaikan hak demokrasinya. Hal ini menjadi catatan penting, termasuk bagi penyelenggara pemilu di lapangan,” ungkapnya.
Dalam sesi diskusi, masing-masing narasumber menyampaikan pandangan dan tanggapannya terkait dinamika politik serta tantangan demokrasi menuju Pemilu 2029.
Akademisi Dr. Sulaeman, menyoroti pentingnya pendidikan politik kepada masyarakat agar demokrasi tidak hanya dimaknai sebagai proses lima tahunan, tetapi sebagai budaya yang harus terus dibangun. Ia memberi catatan kritis karena jumlah golput dalam Pilkada Kuningan melebihi suara pemenang Bupati dan Wakil Bupati Kuningan.
Pengamat Politik yang juga Direktur Jamparing Research, Topic Offirstson, memberikan pandangan mengenai perkembangan perilaku pemilih serta perubahan dinamika politik yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan informasi. Menurutnya, geberasi muda harus melek terhadap perkembangan politik supaya bisa menentukan masa depan yang lebih baik.
Ketua DPC PDIP yang juga Ketua DPRD Kuningan, Nuzul Rachdy, sebagai perwakilan partai politik pemenang Pemilu 2024 menyampaikan pentingnya menjaga komunikasi antara partai politik dengan masyarakat agar aspirasi publik dapat terserap dengan baik. Ia juga menyebut bahwa Pemilu 2024 menjadi pemilihan paling kasar yang pernah ia ikuti selama tiga dekade terakhir
Sementara itu, Ketua KPU Kuningan, Asep Budi Hartono, memaparkan evaluasi penyelenggaraan Pemilu 2024, termasuk upaya meningkatkan partisipasi pemilih dan memastikan proses pemilu berjalan sesuai prinsip demokrasi.
Dari sisi pengawasan, Bawaslu Kuningan melalui, Dadan Yuardan Firdaus, menyampaikan sejumlah catatan terkait pengawasan Pemilu, pencegahan pelanggaran, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawal proses demokrasi.
Dadan menyebut pentingnya pengawasan partisipatif semua unsur, karena mengandalkan Bawaslu saja masih sangat minim untuk menciptakan pengawasan yang menyeluruh.




