
KUNINGAN – Langkah Satria Muda Cirahayu harus terhenti di babak perempat final Turnamen Sepakbola Semi Open Bebas Antar Desa se-Kabupaten Kuningan, Porgal Cup XV. Cirahayu gagal melaju ke semifinal setelah kalah dalam drama adu penalti dari Poral Lengkong dengan skor 2-4.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Ibrahim Adjie, Luragung, Selasa, (18/82026) itu berjalan ketat. Kedua tim bermain imbang 1-1 hingga waktu pertandingan berakhir, sehingga pemenang harus ditentukan melalui adu penalti.
Di balik kegagalan tersebut, pihak official Satria Muda Cirahayu menyoroti sejumlah keputusan perangkat pertandingan yang dinilai kontroversial. Sorotan utama diarahkan kepada profesionalisme dan netralitas wasit yang memimpin laga.
Salah satu keputusan yang dipermasalahkan terjadi ketika pemain Cirahayu dinilai mendapat pelanggaran di dalam kotak penalti. Pihak official menilai insiden tersebut layak diganjar tendangan penalti, namun wasit tidak memberikan keputusan tersebut.
Muhammad Dicky Marwan Fadilah, salah seorang Official Cirahayu menyebut pihaknya memiliki rekaman video pertandingan yang memperlihatkan insiden tersebut. Rekaman itu diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak yang memiliki kewenangan dalam pembinaan dan pengawasan perangkat pertandingan.
“Kami tidak menyalahkan Panpel. Yang kami pertanyakan adalah keputusan wasit. Kami berharap asosiasi wasit dapat melihat rekaman pertandingan secara objektif dan melakukan evaluasi secara serius,” ujarnya.
Menurutnya, keberatan yang disampaikan Cirahayu bukan ditujukan kepada panitia pelaksana (Panpel), melainkan murni terhadap sejumlah keputusan wasit selama pertandingan. Oleh karena itu, pihaknya meminta agar rekaman pertandingan ditinjau secara objektif.
Sorotan terhadap wasit berinisial A juga dikaitkan dengan sejumlah pertandingan sebelumnya yang menurut pihak Cirahayu sempat diwarnai ketegangan. Beberapa di antaranya laga Formig Gunung Karang melawan Dukuh Badag, pertandingan di Pangkalan, serta sejumlah pertandingan lainnya.
Meski demikian, pihak Cirahayu menegaskan berbagai kejadian tersebut perlu diverifikasi dan diperiksa secara resmi agar tidak berkembang menjadi tuduhan sepihak. Mereka meminta Asosiasi Wasit Kuningan melakukan evaluasi terhadap kinerja dan rekam jejak wasit yang bersangkutan.
“Jika memang terbukti ada pelanggaran terhadap profesionalisme dan kode etik, kami meminta adanya tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” tegasnya.
Pihaknya berharap evaluasi tersebut dapat dilakukan secara transparan dan berdasarkan bukti, termasuk rekaman pertandingan. Menurutnya, profesionalisme perangkat pertandingan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan klub dan masyarakat terhadap kompetisi sepak bola.
“Meski kami harus mengubur ambisi melaju ke semifinal, tentu kejadian ini harus menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh pihak. Kami rasa setiap pertandingan harus dipimpin secara adil, profesional, serta berpegang teguh pada aturan permainan dan menjunjung tinggi sportivitas,” tutupnya.





