
KUNINGAN – Kepergian, H. Uba Subari, meninggalkan kenangan mendalam bagi banyak kalangan. Tak hanya dikenal sebagai politikus Partai Amanat Nasional (PAN) di Kabupaten Kuningan, almarhum juga meninggalkan jejak pengabdian dan keteladanan selama pernah memimpin Badan Amil Zakat Nasional (BAZNas) Kabupaten Kuningan.
Salah satu sosok yang merasakan langsung perhatian dan nasihat almarhum adalah, Adang Romadona, salah seorang pimpinan BAZNas Kuningan. Baginya, H. Uba Subari bukan sekadar tokoh senior, melainkan figur yang memiliki kepedulian besar terhadap keberlangsungan lembaga pengelola zakat dan orang-orang yang berada di dalamnya.
Adang mengungkapkan, meskipun dirinya baru sekitar empat bulan bergabung sebagai pimpinan BAZNas Kuningan, ia telah merasakan besarnya perhatian almarhum terhadap jajaran pimpinan baru. Bahkan, dalam beberapa bulan terakhir, almarhum terbilang rutin datang ke kantor BAZNas setiap hari Jumat.
Momen selepas salat Jumat menjadi salah satu kenangan yang sulit dilupakan. Almarhum kerap mengajak jajaran pimpinan BAZNas makan bersama. Namun, pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi dan makan bersama. Di sela-sela suasana santai itu, selalu ada diskusi serius mengenai masa depan BAZNas Kuningan.
Mulai dari strategi pengumpulan zakat, kualitas pendistribusian, hingga tata kelola dan pelaporan lembaga menjadi topik yang kerap dibicarakan.
“Beliau itu sangat perhatian kepada BAZNas. Setiap hari Jumat, setelah salat Jumat, kami sering diajak makan bersama. Di sela-sela makan itulah kami berdiskusi tentang apa yang harus dilakukan BAZNas ke depan, mulai dari pengumpulan, pendistribusian, sampai pelaporan,” kenang Adang, Kamis, (6/11/2026) di sela dirinya takziah ke kediaman almarhum.
Bahkan, dari sekian banyak nasihat yang disampaikan, ada satu pesan almarhum yang paling membekas dalam ingatan Adang, yakni tentang amanah. Dengan logat Sunda yang khas, almarhum kerap mengingatkan agar setiap amanah yang diberikan kepada BAZNas benar-benar ditunaikan sesuai peruntukannya.
“Kahade kudu mikeun sesuai jeung amanatna (hati-hati harus memberi sesuai dengan amanahnya/red),” demikian pesan yang kerap disampaikan almarhum, yang bermakna bahwa setiap hak dan amanah harus disalurkan sesuai dengan ketentuannya.
Menurutnya, almarhum selalu mengingatkan bahwa siapa pun yang bekerja di BAZNas harus menyadari bahwa tugas tersebut bukan semata-mata pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian kepada umat. Pesan lainnya yang terus diingat, Adang adalah pentingnya bekerja dengan ikhlas dan menjadikan amanah sebagai prinsip utama.
“Beliau selalu berpesan, kamu di sini itu untuk umat, bekerja untuk umat. Amanah harus dikedepankan, jangan memikirkan hal lain. Kalau kita amanah dan ikhlas, insyaallah berkah. Urusan duniawinya akan mengikuti,” tuturnya.
Tak hanya memberikan nasihat, kepedulian H. Uba terhadap BAZNas Kuningan juga diwujudkan melalui perhatian terhadap penguatan aset dan fasilitas operasional lembaga.
Adang mengungkapkan, almarhum kerap memotivasi jajaran pimpinan yang lebih muda agar berani mencari peluang dan membangun komunikasi hingga tingkat pusat untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan.
“Beliau selalu memotivasi kami yang muda agar terus mencari peluang ke pusat, bagaimana caranya menambah aset BAZNas. Bahkan, peninggalan beliau masih bisa dirasakan sampai sekarang, salah satunya kendaraan-kendaraan operasional untuk para amil,” ungkapnya.
Bagi dia, hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian almarhum tidak hanya tertuju pada aspek kelembagaan, tetapi juga pada kesejahteraan dan kelancaran tugas para amil yang menjadi garda terdepan dalam pelayanan zakat kepada masyarakat.
Di mata Adang, H. Uba Subari, merupakan pribadi yang ringan tangan, gemar bersedekah, dan tidak segan membantu orang-orang yang membutuhkan. Kebaikan itu pula yang membuat sosoknya begitu berkesan, terutama bagi mereka yang pernah bekerja dan berinteraksi langsung dengannya.
“Beliau orang baik. Saya melihat sendiri bagaimana beliau tidak pernah sayang untuk bersedekah dan berinfak kepada orang lain, terutama mereka yang membutuhkan,” katanya.
Kini, ketika almarhum telah berpulang, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang seorang tokoh senior, tetapi juga pesan-pesan moral yang menjadi pengingat bagi generasi penerus di BAZNas Kuningan.
Baginya, warisan terbesar almarhum bukan semata fasilitas atau aset yang ditinggalkan, melainkan nilai amanah, keikhlasan, kepedulian, dan semangat mengabdi untuk umat.
“Semoga almarhum husnul khatimah. Saya yakin beliau orang baik. Semoga segala kebaikan dan amal ibadah beliau menjadi bekal terbaik di sisi Allah swt,” tutupnya.***




