KUNINGAN – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kuningan menggelar Training Raya yang diikuti 66 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Kegiatan kaderisasi berskala nasional ini resmi dibuka di Aula Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kuningan, Jumat, (6/11/2026).

Mengusung tema “Membentuk Kader HMI yang Transformatif dan Visioner dari Realitas Grassroots untuk Meneguhkan Intelektualitas Kepemimpinan Menuju Terwujudnya Tatanan Masyarakat yang Berkeadilan” kegiatan tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas intelektual, kepemimpinan, serta komitmen pengabdian kader terhadap masyarakat.

Sebanyak 66 peserta terlibat dalam Training Raya tersebut, terdiri atas 47 peserta Latihan Kader II (LK II), 9 peserta Steering Committee (SC), dan 10 peserta Latihan Khusus Kohati (LKK). Para peserta datang dari berbagai wilayah di Indonesia, di antaranya Madura, Kalimantan, Solo, serta sejumlah daerah lainnya.

Training Raya tersebut dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 6 hingga 12 November 2026, dengan agenda penutupan pada Kamis (12/11/2026).

Dalam sambutannya, Ketua Umum HMI Cabang Kuningan, Muhammad Naufal Harits, menyampaikan bahwa Training Raya merupakan momentum penting untuk memperkuat kualitas kader sekaligus memperluas ruang pertukaran gagasan dan pengalaman antarkader dari berbagai daerah.

“Jati diri HMI ini merupakan organisasi pengkaderan. Karena itu, setiap proses kaderisasi harus mampu melahirkan kader yang tidak hanya memiliki kapasitas intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dan keberpihakan terhadap persoalan umat dan bangsa,” ungkap Naufal.

Sementara itu, Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriyani, yang hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut, mengapresiasi HMI Cabang Kuningan atas terselenggaranya Training Raya yang melibatkan kader dari berbagai wilayah Indonesia.

Ia menegaskan bahwa tema yang diangkat mengandung pesan kuat tentang pentingnya membangun kader yang transformatif, visioner, sekaligus memiliki keberpihakan terhadap realitas kehidupan masyarakat, khususnya kelompok yang tertindas.

Menurutnya, kader transformatif bukan hanya mereka yang mampu menyampaikan gagasan perubahan, melainkan kader yang sanggup menghadirkan perubahan nyata. Sementara kader visioner adalah mereka yang mampu membaca tantangan zaman dan menyiapkan jawaban atas berbagai persoalan masa depan.

Namun, kedua karakter tersebut harus berangkat dari pemahaman yang utuh terhadap kehidupan masyarakat.

“Kepemimpinan tidak cukup dibangun dari teori dan diskusi di ruang-ruang akademik, tetapi juga tumbuh dari keberanian mendengar keluhan rakyat, memahami kesulitan mereka, dan mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi,” ungkapnya.

Ia juga menekankan bahwa intelektualitas seorang kader harus memiliki dampak nyata bagi kehidupan sosial. Ilmu harus melahirkan kepekaan, pemikiran harus menghasilkan solusi, dan idealisme harus diwujudkan melalui tindakan.

Lebih lanjut, Tuti mengingatkan pentingnya membangun generasi muda yang kritis sekaligus santun, teguh memegang prinsip tetapi tetap terbuka terhadap perbedaan, serta berani mengoreksi keadaan tanpa kehilangan semangat untuk membangun.

Menurutnya, HMI memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia dan telah melahirkan banyak tokoh yang berkiprah di berbagai bidang kehidupan. Namun, sejarah besar tersebut harus terus dirawat melalui proses kaderisasi yang mampu menjawab perkembangan zaman.

Tantangan generasi muda saat ini semakin kompleks. Mulai dari transformasi digital, ketimpangan sosial, persoalan lapangan kerja, krisis lingkungan, hingga derasnya arus informasi yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, ia berharap Training Raya tidak hanya dimaknai sebagai ruang penguatan wawasan maupun pemenuhan jenjang perkaderan semata.

“Jadikan forum ini sebagai ruang untuk menguji gagasan, memperluas perspektif, membangun karakter, serta melatih kemampuan memimpin dengan integritas,” pesannya.

Ia juga mengingatkan bahwa pemimpin yang hebat bukan hanya mereka yang mampu meyakinkan orang lain melalui perkataan, tetapi juga mereka yang mampu menunjukkan keteladanan melalui sikap, integritas, dan tindakan nyata.***