KUNINGAN – Upaya pencegahan stunting di Kabupaten Kuningan mendapat dukungan dari sektor swasta. Memperingati Hari Anak Nasional, Alfamart memperluas Program Satu Telur Sehari (STS) sekaligus memberikan edukasi mengenai gizi seimbang kepada keluarga penerima manfaat.

Kegiatan digelar di Posyandu Seroja, Kecamatan Kramatmulya, Rabu (12/8/2026). Sebanyak 35 anak bersama orang tua mereka mengikuti edukasi yang melibatkan tenaga kesehatan setempat.

Kepala Puskesmas Kramatmulya, Hj. Iin Arinta, SSt, menjelaskan pentingnya pemenuhan gizi pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Menurut dia, protein hewani memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan anak, terutama pada usia 6 hingga 24 bulan.

Telur menjadi salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh dan dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak.

Iin juga meluruskan anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai konsumsi telur. Salah satunya mitos bahwa terlalu banyak makan telur dapat menyebabkan bisul.

“Bisulan bukan disebabkan karena terlalu banyak makan telur, melainkan akibat infeksi bakteri. Jadi, orang tua tidak perlu khawatir memberikan telur kepada anak selama dikonsumsi sesuai kebutuhan gizinya,” kata Iin.

Menjangkau 2.700 Anak

Program Satu Telur Sehari memasuki tahun keempat pelaksanaannya. Pada 2026, program tersebut menyasar 2.700 anak yang terindikasi stunting di 39 kabupaten/kota.

Total distribusi yang disiapkan mencapai lebih dari 510.000 butir telur selama enam bulan dan dilakukan secara bertahap.

Di Kuningan, penerima manfaat merupakan balita usia 1 hingga 3 tahun yang masuk dalam pendataan anak terindikasi stunting berdasarkan rekomendasi Dinas Kesehatan dan kader Posyandu.

Sejak Mei 2026, para penerima manfaat memperoleh satu butir telur setiap hari yang disalurkan secara berkala.

General Manager Corporate Communications Alfamart, Rani Wijaya, mengatakan program tersebut tidak hanya berorientasi pada distribusi makanan bergizi. Edukasi kepada orang tua menjadi bagian penting agar intervensi gizi berlanjut melalui perubahan kebiasaan di rumah.

Evaluasi internal program pada 2025, kata Rani, menunjukkan 72 persen balita penerima manfaat mengalami kenaikan berat badan secara signifikan.

“Keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya telur yang disalurkan, tetapi juga dari perubahan perilaku keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak,” ujar Rani.

Melalui perpaduan bantuan protein hewani dan edukasi gizi, Alfamart berharap Program STS dapat membantu keluarga membangun pola makan yang lebih baik. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan kader Posyandu juga diharapkan membuat upaya pencegahan stunting tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi berlanjut menjadi kebiasaan di tingkat keluarga. ***