KUNINGAN – Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kuningan menjadi organisasi alumni, tetapi turut mengambil peran dalam membaca, mengawal, dan memberikan solusi terhadap berbagai persoalan yang berkembang di Kabupaten Kuningan.

‎Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan kajian dan konsolidasi KAHMI Kuningan yang digelar di Cipasung, Kecamatan Darma, Jumat, (28/8/2026). Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus wadah untuk membedah secara kritis berbagai dinamika sosial, politik, dan pembangunan daerah.

‎Koordinator Presidium KAHMI Kuningan, Heri Purnama, menegaskan bahwa keberadaan KAHMI harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

‎“KAHMI tidak boleh mengambil jarak dari persoalan daerah, apalagi hanya menjadi organisasi yang sibuk dengan urusan internal tanpa memberikan kontribusi terhadap persoalan publik,” katanya.

‎Menurutnya, alumni HMI memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membaca persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, ruang kajian dan diskusi dinilai penting agar berbagai persoalan daerah tidak hanya menjadi bahan perbincangan, tetapi dapat melahirkan gagasan dan alternatif solusi.

‎Sementara itu, Presidium KAHMI Kuningan, Nanan Abdul Manan, menyoroti pentingnya membangun ruang dialog publik yang sehat di tengah dinamika daerah yang semakin kompleks.

‎Ia menilai perbedaan pilihan politik maupun kepentingan tidak semestinya membuat komunikasi antar elemen masyarakat terputus.

‎“Perbedaan pandangan politik maupun kepentingan tidak semestinya menjadi penghalang untuk membangun komunikasi dan kolaborasi demi kepentingan masyarakat,” ujarnya.

‎Pandangan tersebut diperkuat Dewan Pakar KAHMI Kuningan, Fahrus Zaman Fadli. Menurutnya, KAHMI memiliki modal besar untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah karena dihuni alumni HMI dari beragam latar belakang profesi dan keahlian.

‎Modal intelektual dan jaringan tersebut, kata Fahrus, harus diterjemahkan menjadi keterlibatan nyata dalam berbagai persoalan daerah.

‎“KAHMI Kuningan mendorong agar alumni HMI tidak hanya menjadi penonton terhadap berbagai perubahan dan dinamika daerah. Alumni harus mampu mengambil posisi sebagai bagian dari masyarakat yang ikut memberikan gagasan, melakukan kritik konstruktif, sekaligus menawarkan alternatif solusi,” kata Fahrus.

‎Kajian dan konsolidasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari penguatan internal KAHMI Kuningan pasca-Muswil KAHMI Jawa Barat. Namun, konsolidasi tidak semata-mata diarahkan pada penguatan struktur organisasi.

‎Lebih dari itu, forum tersebut menjadi momentum untuk menyatukan perspektif, memperkuat komunikasi antaralumni, serta merumuskan langkah pengabdian yang lebih konkret di tengah masyarakat.

‎Dewan Pakar KAHMI Kuningan, Endun Abdul Haq, mengatakan KAHMI akan terus membuka ruang kajian dan dialog untuk membahas berbagai persoalan yang berkembang di Kabupaten Kuningan.

‎Dengan semangat “Insan Cita Mengabdi untuk Negeri”, KAHMI ingin menjaga agar tradisi intelektual yang menjadi bagian dari kultur HMI tetap hidup dan mampu diwujudkan melalui kerja-kerja nyata.

‎“KAHMI ingin memastikan tradisi intelektual HMI tetap hidup dan diterjemahkan menjadi kerja-kerja nyata untuk masyarakat,” ujarnya.

‎Dengan demikian, ia berharap alumni HMI tidak berhenti pada nostalgia organisasi, tetapi mampu menjadikan pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang dimiliki sebagai energi pengabdian untuk mendorong Kuningan yang lebih maju, terbuka, dan berkeadilan.