Menurutnya, potensi UMKM di Kuningan cukup besar dan dapat menjadi bagian penting dalam rantai pasok makanan bergizi. “MBG bukan hanya soal menyediakan makanan sehat, tetapi juga peluang untuk memperkuat ekonomi daerah. Jika pelaku UMKM dilibatkan, maka perputaran ekonomi akan kembali pada masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemanfaatan bahan baku lokal sangat penting agar dampak MBG terasa lebih merata. “Dengan adanya MBG, kita bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produk lokal sehingga mampu bersaing dengan produk dari luar daerah,” tambahnya.
Ia juga menilai bahwa MBG dapat memberikan dampak positif bagi aktivitas pasar tradisional di Kabupaten Kuningan. Karena itu ia menekankan pentingnya menjaga kualitas bahan baku, sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas lokal.
“Jika memang ada bahan baku yang belum tersedia secara maksimal di Kuningan, kita bisa mengambil dari luar daerah dengan memperhatikan kualitas dan harga yang bersaing. Namun, tentu prioritas utama tetap pada produk lokal,” jelasnya.
Ia mencontohkan kebutuhan pisang Cavendish yang dapat dipenuhi melalui pengembangan perkebunan lokal. Dengan pola tanam berkesinambungan, komoditas tersebut dapat dipanen dalam waktu relatif singkat.
“Dalam waktu tujuh bulan sudah bisa panen. Ini peluang besar untuk memaksimalkan lahan petani dan menghadirkan pasokan yang stabil bagi kebutuhan MBG,” ujarnya.
Ia berharap program MBG dapat menjadi sarana pemberdayaan UMKM sekaligus memperkuat ekonomi pasar. Kolaborasi antara pemerintah, pelaku UMKM, dan pedagang pasar dinilai menjadi kunci agar manfaat program ini benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
“Kita harus bersinergi untuk memajukan ekonomi daerah. Jika semua pihak bergerak bersama, Kuningan akan semakin maju dan sejahtera,” pungkasnya. (Icu)
previous post
Related posts
- Comments
- Facebook comments
