Kapolres menekankan, kedua pola ini harus dikombinasikan dengan edukasi yang humanis. “Personel harus tetap profesional dan humanis,” katanya. Penindakan bukan satu-satunya senjata. Sosialisasi, edukasi, dan pendekatan persuasif menjadi instrumen penting.
“Kami tidak hanya menindak, tetapi juga memberikan edukasi. Tujuan akhirnya adalah menurunkan angka kecelakaan dan membangun budaya tertib berlalu lintas di Kabupaten Kuningan,” jelas Kapolres.
Polres Kuningan menyiapkan serangkaian program tambahan untuk memperluas jangkauan sosialisasi, termasuk pesan keselamatan di ruang publik, kampanye melalui media sosial, hingga edukasi langsung ke komunitas motor dan sekolah. Semua itu diharapkan mampu memperbaiki budaya berlalu lintas masyarakat yang selama ini masih jauh dari ideal.
Jika operasi ini berjalan sesuai rencana, aparat berharap dua hal: kepatuhan meningkat dan angka fatalitas kecelakaan menurun drastis. Kapolres Ali Akbar menutup amanatnya dengan pesan personal.
“Dengan Operasi Zebra, kita ingin masyarakat lebih siap menghadapi kepadatan arus libur panjang. Polisi bukan semata menilang, tetapi mengedukasi dan mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas,” ujarnya.
Operasi Zebra Lodaya 2025 baru dimulai, tetapi pesan Kapolres jelas yaitu keselamatan bukan hanya tanggung jawab polisi, melainkan kesadaran kolektif. Jika masyarakat tetap lalai, maka ancaman “ledakan” laka lantas bukan lagi prediksi, melainkan kenyataan yang menunggu di tikungan berikutnya. (ali)
