Di sela-sela praktik, peserta juga bisa berkonsultasi. “Ini kesempatan langka, bisa bertanya langsung pada ahlinya,” ujar Rani, mahasiswa tata boga dari Cirebon yang baru pertama kali ikut Baking Demo. Menurutnya, acara ini membuka wawasan tentang bagaimana mengubah hobi memanggang menjadi peluang bisnis.
Wakil Bupati Tuti dalam pidatonya menyinggung potensi ekonomi dari sektor kuliner. Menurutnya, usaha bakery dan pastry kini tidak hanya digemari kalangan menengah ke atas, tetapi juga mulai merambah pasar yang lebih luas. “UMKM di bidang kuliner harus berani naik kelas. Inovasi dan kualitas adalah kunci untuk menembus pasar yang lebih besar,” katanya.
Ia juga berharap kegiatan seperti Baking Demo bisa menjadi agenda tahunan. Pemerintah daerah, ujar Tuti, siap mendukung agar acara serupa terus digelar, sehingga talenta muda maupun UMKM lokal mendapat ruang untuk berkembang.
Tingginya antusiasme peserta membuat panitia optimistis Baking Demo 2025 akan menjadi tradisi baru. Bukan hanya untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga membangun ekosistem kuliner di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan).
“Dari sini kami berharap lahir wirausaha baru yang berdaya saing, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” kata salah satu panitia.
Acara berakhir menjelang sore dengan suasana penuh semangat. Dari sekian banyak kue yang dihasilkan, yang paling terasa bukan hanya manisnya gula, melainkan juga optimisme para peserta bahwa dunia baking bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih cerah. (ali)
