Keharuan memuncak saat upacara formal usai. Mengikuti tradisi yang sudah mengakar kuat di lingkungan Polri, ke-97 personel tersebut tidak langsung membubarkan diri. Mereka justru dikumpulkan di tengah lapangan untuk menjalani prosesi penyiraman air menggunakan mobil pemadam kebakaran.
Di bawah sorotan matahari awal tahun, pancaran air dari selang-selang Damkar membilas tubuh para personel hingga basah kuyup. Tradisi ini bukan hanya gimik seru-seruan, melainkan simbolik “penyucian diri”. Air yang mengguyur tubuh mereka dimaknai sebagai pembasuh ego pangkat lama dan simbol pembaruan semangat untuk memikul tanggung jawab yang kian berat.
Para istri (Bhayangkari) dan anak-anak yang hadir tampak tersenyum lebar sembari mendampingi para personel yang basah kuyup. Suasana emosional ini menciptakan ikatan batin yang kuat, menegaskan bahwa kesuksesan seorang anggota Polri di lapangan tak lepas dari doa dan dukungan moral yang mengalir dari rumah.
Kenaikan pangkat di awal tahun ini menjadi modal penting bagi soliditas internal Polres Kuningan. Memasuki tahun 2026, tantangan keamanan di wilayah Kabupaten Kuningan diprediksi akan semakin kompleks. Mulai dari ancaman kejahatan siber yang kian canggih, pengamanan agenda ekonomi daerah, hingga dinamika sosial di pelosok desa.
Dengan 97 personel yang kini memiliki otoritas dan kedewasaan pangkat lebih tinggi, publik Kuningan tentu menanti pembuktian konkret. Apakah kenaikan pangkat ini benar-benar linier dengan penurunan angka kriminalitas dan peningkatan rasa aman bagi Masyarakat.
Prosesi siraman air memang telah usai, dan seragam yang basah akan segera kering. Namun, bagi 97 polisi Kuningan ini, “pembaptisan” air Damkar tersebut adalah janji baru untuk tetap berdiri tegak sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat di tengah perubahan zaman yang kian menantang. (ali)
