Usulan transisi dari makanan siap saji ke paket bahan kering seperti telur, daging beku, susu, atau beras bernutrisi dianggap lebih menjawab kebutuhan. Dengan format bahan baku, warga dapat mengolahnya sendiri untuk kebutuhan sahur maupun berbuka puasa bersama keluarga di rumah, sehingga nilai gizi yang diharapkan tetap terserap maksimal.
Menanggapi aspirasi tersebut, Hj. Ika Siti Rahmatika yang juga dari anggota Fraksi PDIP DPRD Provinsi Jawa Barat itu sepakat bahwa program besar seperti MBG harus memiliki sensitivitas terhadap kearifan lokal dan kondisi religius masyarakat. Menurutnya, tujuan mulia memperbaiki gizi anak bangsa jangan sampai terhambat oleh kekakuan administratif.
“Masukan ini sangat logis. Kita ingin gizi anak-anak kita meningkat, tapi kita juga harus menghargai ibadah masyarakat. Penyesuaian distribusi menjadi paket sembako bergizi selama Ramadan adalah solusi cerdas agar program ini tepat manfaat dan tepat waktu,” ujar Ika.
Ika berjanji akan membawa masukan ini ke tingkat provinsi untuk diteruskan sebagai rekomendasi kepada pengelola program di tingkat pusat. Baginya, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari berapa banyak porsi yang dibagikan, tapi seberapa efektif makanan tersebut dikonsumsi oleh mereka yang membutuhkan tanpa ada satu butir nasi pun yang terbuang. (ali)
