Di sektor ekonomi, warga menyampaikan kekhawatiran terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok dan keberlangsungan usaha kecil rumah tangga. Banyak ibu rumah tangga menggantungkan penghasilan dari usaha kuliner rumahan, kerajinan, dan perdagangan kecil. Mereka berharap kebijakan yang berpihak pada usaha mikro, termasuk pelatihan, akses permodalan, dan pendampingan pemasaran.
Dialog yang berlangsung lebih dari dua jam itu juga memunculkan usulan agar kegiatan serupa digelar secara berkala. Warga menilai pertemuan langsung dengan wakil rakyat membuka ruang komunikasi yang lebih jujur dan efektif dibandingkan penyampaian aspirasi melalui jalur administratif.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ika Siti Rahmatika menyatakan komitmennya untuk membawa aspirasi warga ke tingkat provinsi. Ia menegaskan bahwa perencanaan dan penganggaran Tahun 2026 harus mempertimbangkan kebutuhan riil masyarakat, terutama program yang berdampak langsung pada kesehatan, kesejahteraan, dan penguatan peran sosial.
“Yang disampaikan hari ini menjadi catatan penting bagi kami. Pembangunan tidak boleh jauh dari kebutuhan warga,” ujarnya.
Menjelang siang, dialog ditutup dengan sesi foto bersama. Warga berangsur meninggalkan lokasi, sebagian kembali berolahraga, lainnya berbincang santai. Di Tirta Citambang, aspirasi itu mengalir seperti air kolam, tenang di permukaan, namun menyimpan harapan akan perubahan yang lebih nyata. (ali)
