
KUNINGAN – Permasalahan kotoran hewan (KOHE) yang bersumber dari sapi perah di wilayah Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan seringkali menjadi isu lingkungan yang kompleks.
Merespons hal tersebut, akademisi dari Universitas Islam Al-Ihya Kuningan dan Universitas Pasundan Bandung turun tangan menggagas tata kelola KOHE berbasis kolaborasi multiaktor. Upaya itu dilakukan melalui pendanaan Hibah Penelitian Diktisaintek skema Penelitian Kerjasama antar Perguruan Tinggi.
Tim peneliti dari dua kampus tersebut menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara maraton di Grand Cordela Hotel AS Putra Kuningan, Selasa (21/7/2026). Hadir secara langsung di antaranya dosen Komunikasi dan Penyiaran Islam Unisa Kuningan, Cecep Nana Nasuha, dan Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si. dari Universitas Pasundan.
Rektor UNISA Kuningan, Dr. Nurul Iman Hima Amrullah, menegaskan bahwa persoalan Kohe tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia berharap kolaborasi lintas sektor kali ini mampu menyulap masalah limbah menjadi berkah.
Menurutnya, jika peran semua pihak dari pemerintah daerah hingga tingkat peternak berfungsi dengan baik, masalah KOHE bukan hanya bisa diselesaikan secara tuntas, tetapi juga akan memberikan efek domino berupa peningkatan roda ekonomi bagi para peternak, petani, dan masyarakat sekitar.
“Tujuan utama dari pertemuan ini tidak sekadar diskusi wacana. Hasil FGD akan dikristalisasi menjadi sebuah policy brief resmi yang akan diserahkan kepada Pemda Kuningan sebagai rujukan kebijakan,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, Cecep Nana Nasuha menerangkan, analisis penelitian tersebut dikupas tajam menggunakan kerangka Integrative Framework for Collaborative Governance dari Emerson. Hal itu dilakuman untuk memastikan keterlibatan prinsipil, motivasi bersama, dan kapasitas aksi lintas sektoral antar pemangku kepentingan dapat benar-benar terwujud di lapangan.
Menurutnya, untuk menyatukan visi, FGD menghadirkan pemantik materi dari berbagai dinas terkait guna membedah persoalan KOHE dari beragam sudut pandang. Dari kacamata lingkungan, hadir perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuningan, Rismunandar, yang memaparkan realita permasalahan lingkungan hidup, capaian IKLH, sekaligus merumuskan strategi kebijakan tata kelola KOHE sapi.
Sementara itu, dari sudut pandang peternakan, Nandang Sugema, selaku perwakilan Dinas Perikanan dan Peternakan memetakan upaya-upaya strategis pemerintah daerah, kendala di lapangan, serta besarnya potensi pemanfaatan limbah yang selama ini memiliki banyak keterbatasan.
Sedangkan, Ucen, dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menawarkan pendekatan kolaboratif dan model pengelolaan KOHE di Cipari agar diintegrasikan sebagai dukungan nyata bagi sektor pertanian berkelanjutan.
Melengkapi hal tersebut, Tri Guna, yang mewakili Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian memaparkan strategi peningkatan ekonomi dan langkah pendampingan usaha, khususnya bagi Koperasi Produsen yang bergerak di bidang susu sapi perah di Kelurahan Cipari.
Diskusi yang berlangsung hangat dan interaktif itu turut melibatkan langsung akar rumput serta para pengambil kebijakan di tingkat wilayah. Turut hadir mematangkan rumusan kolaborasi tersebut Camat Cigugur, Lurah Cipari, perwakilan akademisi, UPTD KPP Kuningan, BPP Kuningan, hingga para peternak sapi dan pengurus Koperasi Produsen Karya Nugraha serta Larasati.
“Semua pihak sepakat bahwa tata kelola yang terintegrasi adalah kunci utama agar sentra sapi perah Cipari tetap produktif tanpa harus mewariskan masalah lingkungan ke depannya,” pungkasnya.




