
KUNINGAN – Momen kunjungan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, ke gedung Naskah Linggarjati disambut keluhan. Salah satunya tentang tarif masuk gedung naskah yang naik signifikan dari Rp.2000 menjadi Rp.10.000.
Menariknya, keluhan tersebut disampaikan oleh para pedagang di lokasi gedung. Meski tidak disampaikan langsung ke Menteri Kebudayaan, para pedagang memanfaatkan momen yang dihadiri Bupati dan Wakil Bupati Kuningan, Ketua DPRD Kuningan, dan para pejabat lainnya itu.
Pedagang mengaku, kebijakan kenaikan tarif tersebut berdampak langsung pada menurunnya jumlah pengunjung dan berimbas pada minimnya pendapatan.
Tuti Suhati (48), menerangkan, penurunan jumlah pengunjung dirasakan hampir dua tahun terakhir. Ia yang telah berjualan lebih dari satu dekade itu menyebut perubahan terasa signifikan sejak tarif tiket mengalami kenaikan.
“Dulu ramai, sekarang sepi. Lebaran tiga tahun lalu masih bagus, tapi dua tahun terakhir menurun drastis,” ujar Tuti, Jumat (3/4/2026).
Menurutnya, di kawasan tersebut tercatat ada sekitar 27 pedagang, dengan 18 di antaranya aktif berjualan setiap hari. Namun, kondisi sepi membuat sebagian pelaku usaha memilih tidak beroperasi secara rutin, termasuk paguyuban fotografer yang kini jarang terlihat.
“Ketika ramai, pendapatan saat libur lebaran bisa mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari. Namun kini, untuk mendapatkan Rp100 ribu saja sudah menjadi hal yang sulit,” ungkapnya.
Selain soal tarif tiket, Tuti juga menyoroti kebiasaan pengunjung, baik individu maupun rombongan yang membawa makanan dari luar kawasan wisata. Hal ini dinilai mengurangi peluang pedagang lokal untuk mendapatkan pemasukan.
“Kalau rombongan ke sini, harapannya jangan bawa makanan dari luar. Biar ada kontribusi juga ke pedagang di sini,” katanya.
Tak hanya itu, para pedagang juga dihadapkan pada rencana penerapan retribusi lapak berdasarkan luas area berjualan. Meski belum ditetapkan, besaran yang disosialisasikan mencapai Rp60 ribu per meter per bulan. Rencana tersebut pun diakui sangat memberatkan para pedagang.
“Kalau harus bayar segitu, jelas keberatan. Soalnya pengunjung saja tidak setiap hari ramai,” ucapnya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, Nuzul Rachdy, menilai tarif tiket masuk perlu dikaji ulang. Ia menegaskan bahwa Gedung Naskah Linggarjati merupakan destinasi edukasi yang menyasar pelajar, sehingga tidak seharusnya berorientasi pada keuntungan semata.
“Segmennya ini siswa. Jadi tidak layak kalau berorientasi profit. Dalam kondisi ekonomi sekarang, tiket Rp10 ribu cukup berat bagi pelajar,” ujar Nuzul.
Ia menyatakan sependapat dengan masyarakat yang menginginkan adanya penyesuaian harga tiket agar lebih terjangkau, khususnya bagi kalangan pelajar.
“Ini bukan objek wisata biasa, tapi tempat edukasi. Maka tarifnya harus disesuaikan dengan kemampuan siswa,” tutupnya. (Icu)




