
KUNINGAN – Ruang partisipasi generasi muda Kuningan mendapat sorotan. Hal itu terungkap dalam diskuai Forum Generasi Kuningan (FGK) yang bertajuk menilik semangat pemuda Kuningan, antara malas membangun kampung halaman atau tertindas kenyataan.
Forum yang diisi mahasiswa dan aktivis itu membahas hubungan antara pemuda dan Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam pembangunan daerah. Diskusi tidak hanya mempertanyakan sejauh mana kepedulian pemuda terhadap kampung halaman, tetapi juga mengkritisi apakah pemerintah daerah selama ini telah memberikan ruang yang cukup bagi generasi muda untuk berkontribusi.
Sekretaris Jenderal IMM Kuningan, Azril Perliyansyah, mengatakan munculnya forum tersebut berangkat dari keresahan terhadap berbagai dinamika yang terjadi di Kuningan. Menurutnya, Kuningan memiliki potensi besar, terutama dalam sektor pariwisata dan budaya. Namun, potensi tersebut membutuhkan inisiator dan gagasan baru agar dapat dikembangkan secara maksimal.
“Diadakannya forum ini pasti ada keresahan. Saya rasa memang Kuningan ini memiliki berbagai dinamika. Kuningan ini banyak potensi, secara wisata, budaya, tetapi di sisi itu perlu ada inisiator. Siapa yang akan menggagas ke arah sana,” ujarnya, Rabu (26/8/2026)
Ia menilai pemuda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kemajuan daerah. Karena itu, pembahasan mengenai masa depan Kuningan tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi juga melibatkan generasi muda sebagai bagian penting dari pembangunan.
Namun, Azril mengingatkan agar persoalan tersebut tidak dilihat dengan sudut pandang bahwa pemuda Kuningan semata-mata malas atau tidak peduli terhadap daerahnya.
“Pemuda Kuningan itu memang malas ke kampung halaman atau memang tertindas oleh kenyataan?” katanya.
Menurutnya, pertanyaan tersebut perlu dijawab dengan melihat kondisi secara lebih utuh. Termasuk mempertanyakan apakah pemerintah daerah telah menyediakan ruang yang cukup bagi pemuda untuk menyampaikan gagasan dan terlibat langsung dalam pembangunan.
“Jangan lagi berpikir, kenapa sih pemuda malas-malas, tidak peduli terhadap Kuningan. Tapi coba pola itu dibalik, apakah pemerintah daerah berpikir bahwa ada ruang untuk pemuda?” tegasnya.
Azril menekankan, keterlibatan pemerintah dalam pemberdayaan pemuda tidak cukup hanya melalui kegiatan yang bersifat seremonial. Pemuda perlu diberikan ruang yang nyata untuk menyampaikan pemikiran, menawarkan gagasan, bahkan ikut mengambil bagian dalam proses pembangunan.
“Partisipasi Pemda itu bukan hanya seremonial, tetapi kita bisa berkontribusi dalam benar-benar pemuda bisa memberikan pemikirannya untuk membangun Kuningan,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Ketua II PMII Kuningan, Ahmad Rio Nugraha, mengajak pemuda maupun pemerintah untuk melakukan refleksi dua arah.
“Pemuda mau ngasih apa untuk Kuningan, atau Kuningan yang belum memberikan ruang untuk kita?” ungkapnya.
Sementara itu, Presiden Mahasiswa Universitas Diponegoro 2024, Farid Darmawan, turut menyoroti perhatian pemerintah daerah terhadap generasi muda, salah satunya melalui program beasiswa.
Ia berharap kebijakan tersebut dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian dari upaya membangun kolaborasi antara pemerintah daerah dengan pemuda maupun mahasiswa.
“Harapannya lebih maju lagi Kuningan dengan kolaborasi,” kata Farid.
Forum itu juga menegaskan bahwa persoalan pemuda dan pembangunan daerah tidak bisa dilihat secara hitam-putih. Ketika sebagian anak muda memilih beraktivitas di luar daerah, pertanyaannya bukan hanya mengapa mereka tidak kembali, tetapi juga apakah ketika kembali mereka menemukan ruang untuk berkontribusi.





