“Seperti penanaman pohon di lahan kosong, tepatnya di wilayah masjid. Supya masjid kita sejuk dan memiliki estetika yang baik,” tuturnya.
Menurutnya, hal itu selaras dengan program yang diluncurkan Kantor Wilayah Kemenag Jawa Barat, yaitu para pengelola masjid dan masyarakat supaya selaras antara cinta terhadap Allah, manusia, dan alam.
Hal yang harus dilakukan oleh masyarakat, lanjutnya, jika ada masjid yang belum tersentuh dengan program tersebut, bisa segera berkomunikasi atau berkoordinasi dengan KUA di tiap kecamatan masing-masing. Ia juga mengingatkan bahwa KUA tidak sekedar melayani pernikahan dan kerjaan lain yang sudah biasa, melainkan berkontribusi nyata di lingkungan.
“Bisa koordinasi dengan KUA. Jadi, KUA itu bukan hanya sekedar tempat untuk mengurusi soal pernikahan, tapi setiap program keagamaan apapun itu pusatnya di KUA, supaya kami juga bisa memberdayakan pegawai KUA dan lebih mudah untuk menyentuh ke akar rumput,” pungkasnya.
Meski program tersebut dinilai tidak mudah untuk dilaksanakan secara merata dalam waktu singkat, pihaknya optimistis bisa berjalan konsisten dengan dukungan berbagai pihak. Menurutnya, sinergi antara KUA, pengurus masjid, serta masyarakat bisa menjadikan masjid tidak hanya bersih dan layak, tetapi juga kembali berfungsi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial di lingkungan sekitar. (Icu)
