Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Hukum

GP Ansor Kuningan Kecam Pengeroyokan Santri Asal Caracas

KUNINGAN — Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Kuningan, Cak Imin, mengutuk keras aksi pengeroyokan yang menimpa Faliq Nuli (15), seorang santri asal Desa Caracas, Kecamatan Cilimus. Faliq menjadi korban kebrutalan massa yang diduga dipicu oleh persoalan atribut klub sepak bola.

Cak Imin menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak di bawah umur tersebut merupakan tindakan biadab yang merusak citra Kabupaten Kuningan sebagai daerah religius.

“Ini bukan sekadar aksi kekerasan biasa. Ini adalah tindakan pengecut. Sangat memalukan jika fanatisme sepak bola justru melahirkan brutalitas seperti ini,” ujar Cak Imin, Selasa (12/5/2026).

Insiden tersebut terjadi saat korban diketahui baru saja pulang mengaji. Naas, di tengah jalan ia dihadang dan dikeroyok secara beramai-ramai hingga harus dilarikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

GP Ansor menyoroti bahwa motif pengeroyokan yang diduga hanya karena perbedaan jersey atau atribut klub adalah alarm serius bagi kondisi sosial generasi muda.

“Kalau hanya karena berbeda jersey lalu seseorang bisa dikeroyok, maka ada yang salah dengan cara kita memahami rivalitas dan solidaritas,” tegas Cak Imin.

Tak sekadar mengecam, GP Ansor meminta aparat penegak hukum untuk bergerak cepat dan tidak hanya menunggu kasus ini menjadi viral di media sosial. Cak Imin menekankan pentingnya pengusutan tuntas terhadap seluruh pelaku yang terlibat tanpa pandang bulu.

Tuntutan Ansor kepada aparat penegak hukum diantaranya bertindak tegas, profesional, dan transparan, kemudian memastikan tidak ada pelaku yang merasa kebal hukum karena berlindung di balik identitas kelompok suporter, serta menjamin keamanan ruang publik bagi anak-anak dan santri di Kuningan.

Menutup pernyataannya, Cak Imin mengajak seluruh elemen masyarakat serta komunitas suporter sepak bola untuk melakukan refleksi mendalam. Ia mengingatkan bahwa rivalitas dalam olahraga seharusnya berhenti ketika peluit panjang berbunyi, bukan berlanjut menjadi aksi kriminal di jalanan.

“Rivalitas boleh hidup. Tetapi kemanusiaan tidak boleh mati,” pungkasnya. ***

Baca Juga :  Kodim 0615 Kuningan Meriahkan HUT ke-78 TNI dengan Rangkaian Kegiatan Sosial dan Kemanusiaan

Penulis: Ali || Editor: Ali