
CIREBON – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Cirebon menggelar National Public Discussion bertajuk “Transformasi Digital Sebagai Katalis Pembangunan Nasional: Memperkuat Ekosistem Media, UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045” di Kantor Bupati Kabupaten Cirebon, Jumat malam (17/7/2026).
Diskusi nasional tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pemerintah, legislatif, perbankan, hingga aparat keamanan untuk mengupas peluang dan tantangan transformasi digital dalam mendukung pembangunan nasional.
Ketua Pelaksana, Maolana Yusuf, mengatakan masyarakat saat ini telah memasuki era digital yang tidak lagi sekadar berbicara mengenai digitalisasi. Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar di berbagai sektor kehidupan, mulai dari pendidikan, pemerintahan, ekonomi hingga aktivitas mahasiswa.
”Digital saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan yang memengaruhi hampir seluruh sektor. Oleh karena itu, mahasiswa harus mampu beradaptasi, meningkatkan kapasitas, dan mengambil peran dalam menghadapi perubahan tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Cirebon, Muhammad Akramul Farhan, menjelaskan bahwa National Public Discussion digelar sebagai ruang bertukar gagasan dengan menghadirkan narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya.
Ia menilai berbagai persoalan yang muncul di ruang digital saat ini perlu menjadi perhatian bersama. Mulai dari maraknya aktivitas buzzer, penyebaran konten perjudian online di media sosial, hingga serangan terhadap media massa daerah yang dinilai dapat mengganggu kualitas informasi di tengah masyarakat.
”Kami menghadirkan narasumber yang kompeten agar peserta memperoleh pemahaman yang utuh mengenai transformasi digital. Fenomena buzzer, judi online, hingga media daerah yang sempat mendapat serangan di ruang digital menjadi bagian dari persoalan yang perlu dibahas bersama,” kata Farhan.
Dalam pemaparannya, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dr. Dave A.F. Laksono, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 229,4 juta pengguna internet dengan tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang sekaligus tantangan dalam membangun ekosistem digital nasional.
Menurut Dave, visi Indonesia Emas 2045 harus dibangun melalui transformasi digital yang berlandaskan inklusivitas, pemberdayaan, dan keberlanjutan, sehingga manfaat teknologi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat.
Ia menekankan bahwa transformasi digital harus didukung oleh tata kelola media digital yang sehat, perlindungan data pribadi, serta keamanan siber yang kuat agar ruang digital tetap aman dan produktif.
”Media digital harus mampu menciptakan ruang yang adil dan aman. Namun saat ini masih banyak platform digital yang menyebarkan informasi tanpa memperhatikan etika. Akibatnya, berbagai isu negatif, disinformasi, hingga informasi yang menyesatkan dengan mudah beredar di tengah masyarakat,” ujarnya.
Dave juga menyoroti perubahan besar yang terjadi pada industri media. Menurutnya, kehadiran platform digital telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat sehingga industri televisi dan radio konvensional menghadapi tantangan yang semakin besar.
Di sisi lain, ia menegaskan pentingnya memperkuat keamanan siber sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan digital Indonesia. Hal tersebut meliputi perlindungan data warga negara, pengamanan sistem pemerintahan, serta perlindungan terhadap infrastruktur strategis nasional dari berbagai ancaman siber.
Tak kalah penting, Dave mengajak generasi muda untuk menjadi motor penggerak literasi digital dengan memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis, produktif, dan bertanggung jawab.
”Transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan tata kelola digital yang sehat, keamanan siber yang tangguh, serta generasi muda yang siap menjadi pemimpin dan agen perubahan,” tegasnya.
Selain Dave Laksono, kegiatan tersebut juga menghadirkan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon Fickry Widia Nugraha, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon Jois Putra, serta Letkol CPM Dwi Anto Saputra sebagai narasumber.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Cirebon, Fickry Widia Nugraha, memaparkan bahwa transformasi digital telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional, khususnya melalui penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Menurutnya, digitalisasi membuka peluang pasar yang lebih luas, meningkatkan efisiensi usaha, serta mempercepat akses pelaku UMKM terhadap layanan keuangan.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa adopsi teknologi harus diimbangi dengan peningkatan literasi digital dan literasi keuangan masyarakat. Masih banyak pelaku usaha yang belum memahami keamanan transaksi digital sehingga rentan menjadi korban penipuan, penyalahgunaan data pribadi, maupun berbagai modus kejahatan siber.
”Transformasi digital bukan sekadar memindahkan transaksi ke platform digital, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem digital melalui edukasi dan perlindungan konsumen,” ujarnya.
Ia menambahkan, Bank Indonesia terus mendorong perluasan penggunaan sistem pembayaran digital, termasuk QRIS, sebagai bagian dari upaya menciptakan ekonomi digital yang inklusif serta memperkuat daya saing UMKM di tingkat nasional maupun global.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, dan Kebudayaan Kabupaten Cirebon, Jois Putra, menyoroti pentingnya peran generasi muda dalam mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif melalui pemanfaatan teknologi digital.
Menurutnya, sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung kreativitas, inovasi, dan kemampuan memanfaatkan platform digital sebagai sarana promosi maupun pemasaran produk lokal.
”Generasi muda harus mampu menjadi pelaku, bukan sekadar pengguna teknologi. Digitalisasi harus dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja, mengembangkan potensi daerah, serta memperkuat identitas budaya lokal di tengah persaingan global,” katanya.
Ia juga mendorong kolaborasi antara pemerintah, komunitas, perguruan tinggi, dan dunia usaha agar lahir lebih banyak wirausaha muda berbasis digital yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Adapun Letkol CPM Dwi Anto Saputra menekankan bahwa transformasi digital juga menghadirkan tantangan serius terhadap aspek keamanan nasional. Ancaman di ruang siber tidak lagi terbatas pada peretasan sistem, tetapi juga mencakup penyebaran hoaks, propaganda, ujaran kebencian, hingga perjudian online yang dapat merusak tatanan sosial.
Menurutnya, masyarakat, khususnya generasi muda, harus memiliki kesadaran bela negara di era digital dengan bersikap kritis terhadap informasi yang diterima dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai konten yang berpotensi memecah persatuan.
”Keamanan digital bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga seluruh masyarakat. Setiap individu memiliki peran dalam menjaga ruang digital tetap sehat, aman, dan produktif,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi harus diiringi dengan penguatan karakter, etika bermedia sosial, serta kepatuhan terhadap hukum agar transformasi digital benar-benar memberikan manfaat bagi pembangunan nasional.




