Kapolres juga menyoroti aspek kondisi sosial dan gaya hidup para sopir. Potensi penyalahgunaan alkohol atau narkoba harus menjadi perhatian khusus, mengingat dampaknya yang fatal.
“Kepala SPPG harus mengawasi apakah sopir ini tidak terlibat minuman keras atau narkoba. Kalau ada kecurigaan, silakan bekerja sama dengan kami. Kepolisian siap melakukan tes urine kepada seluruh sopir MBG di Kabupaten Kuningan,” ujarnya, menawarkan langkah kolaboratif yang ketat.
Langkah ini, menurut Kapolres Ali, bukan untuk mempersulit, melainkan untuk memastikan keselamatan seluruh siswa dan guru yang berada dalam area distribusi. Ia juga menegaskan bahwa polisi bisa melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen dan kendaraan MBG di Kuningan sebagai bagian dari fungsi menjaga keselamatan pengguna jalan.
“Supir harus memiliki mental baik dan jiwa yang sehat. Jangan sampai ada sopir yang tidak siap secara mental justru menjadi ancaman keselamatan,” lanjutnya.
Kapolres Kuningan juga mendorong kolaborasi lebih kuat antara kepolisian dengan Satgas MBG Kabupaten Kuningan. Insiden di Jakarta Utara disebutnya sebagai contoh nyata bahwa kelalaian sekecil apa pun dapat berujung fatal. “Kami tidak ingin kejadian seperti itu terjadi di Kuningan. Pengawasan, evaluasi, dan pembinaan sopir MBG harus dilakukan secara berkelanjutan,” tegas AKBP M. Ali Akbar. (ali)
