PERISTIWA Isra dan Mi’raj merupakan peristiwa besar yang sungguh terjadi dan merupakan bukti nyata perjalanan Nabi Muhammad Saw. Perjalanan yang sungguh di luar nalar atau logika manusia itu membawa perubahan keimanan dan keyakinan kuat bagi seorang muslim. Hal itu terbukti pada istri Nabi, Khadijah dan Abu Bakar yang membenarkan dengan keimanan dan keyakinan. Tidak ada bantahan dan penolakan. Mereka percaya.
Peristiwa itu bukan tentang sejarah, mukjizat kenabian, dan sholat saja, melainkan pembuktian kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Kuasa Allah memperjalankan hamba dari Mekah ke Madinah menuju Yerusalem Palestina dalam waktu yang begitu singkat. Kemudian menuju tempat yang hanya diketahui Nabi dan Allah saja, bahkan malaikat Jibrilpun tidak mengetahuinya. Peristiwa itu membawa banyak gambaran tentang kehidupan manusia, bukan hanya di dunia melainkan setelah kematian.
Penerimaan mukjizat yang sungguh dahsyat itu mesti berdampak pada peningkatan kualitas keimanan seorang muslim. Bukan hanya saat mendirikan ibadah sholat, melainkan efek penting dari keseharian seorang muslim dalam banyak hal kehidupan, baik untuk sesama, dan lingkungan atau ekosistem di sekitarnya. Ibadah ritual yang dilaksanakan harus tercermin pada perilaku positif.
Pemahaman dan pemaknaan Isra dan Mi’raj harus sampai pada makna agungnya, yakni tentang kebesaran dan kekuasaan Allah. Pemaknaan itulah yang kemudian menjadi penguat iman dan taqwa. Peristiwanya memberikan pelajaran untuk lebih yakin, mandiri, semangat belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, melainkan isu-isu sosial, politik, ekonomi, dan saintek.
