Ketua Yayasan Harmoni Nusa, Iip Saeful Bahri, menyambut baik respons pemerintah daerah. Ia menyebut pembangunan jembatan ini sebagai penanda awal kolaborasi yang positif dan diharapkan dapat berlanjut.
“Dengan berdirinya jembatan sepanjang 120 meter ini, semoga kolaborasi antara kami dan pemerintah daerah terus terjalin dengan baik demi kemaslahatan masyarakat,” kata Iip.
Sementara itu, perwakilan dari Yayasan 1011 Putra Peduli, Erik, menjelaskan bahwa Jembatan KIRANA merupakan jembatan kelima yang berhasil mereka bangun di Kabupaten Kuningan. Erik menuturkan, pemilihan nama “Kirana” memiliki makna filosofis yang dalam.
“Misi kami adalah memperbaiki kehidupan rakyat Indonesia melalui pembangunan. Jembatan Kirana berarti cahaya, semoga menjadi sinar harapan untuk menyambung dua desa dan membangun perekonomian masyarakat,” ungkap Erik, menggambarkan jembatan sebagai sarana pembawa optimisme.
Peresmian berlangsung meriah, ditandai dengan pengguntingan pita oleh Wakil Bupati Kuningan, disaksikan oleh jajaran Forkopimcam Maleber, perangkat desa, pengurus yayasan, tokoh masyarakat, dan ratusan warga. Tawa ceria anak-anak sekolah yang kini tak lagi harus menyeberangi sungai dengan bahaya menjadi penanda keberhasilan paling nyata dari proyek ini.
Usai peresmian, Wakil Bupati dan rombongan meninjau langsung jembatan yang tampak kokoh dan berwarna cerah, diakhiri dengan sesi foto bersama warga. Kehadiran Jembatan Gantung KIRANA kini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru, mempercepat mobilitas hasil bumi, dan yang terpenting, memperkuat semangat gotong royong dalam membangun desa-desa di Kabupaten Kuningan. (ali)
