“Ini menepis pandangan bahwa kabupaten seperti Kuningan hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi regional. Justru Kuningan sekarang menjadi lokomotif baru bagi wilayah Ciayumajakuning,” ucap Diding Wahyudin menambahkan, menyoroti pengakuan tingkat nasional.
Data analisis pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuningan menguatkan pandangan KAHMI. Laju pertumbuhan ekonomi Kuningan menembus angka dua digit, mencapai 10,09 persen pada Triwulan II (c-to-c). Secara tahunan (year-on-year), ekonomi Kuningan bahkan tumbuh 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Dari analisis komponen pengeluaran, Konsumsi Akhir Rumah Tangga (RT) terbukti menjadi motor utama. Kontribusi konsumsi RT mencapai 6,64 persen pada Triwulan I dan 5,72 persen pada Triwulan II (c-to-c). Pada sisi laju pertumbuhan tahunan (Y-on-Y), konsumsi rumah tangga menunjukkan geliat kuat, tumbuh 8,73 persen pada Triwulan I dan 6,22 persen pada Triwulan II. Capaian ini menjadi cerminan positif bahwa daya beli masyarakat Kuningan tetap terjaga dengan baik.
Sinyal positif juga datang dari komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), yang merupakan indikator aktivitas investasi. PMTB melonjak tajam dari 8,15 persen pada Triwulan I menjadi 10,90 persen pada Triwulan II (Y-on-Y). KAHMI menilai, tren ini menandakan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha dan investor terhadap prospek ekonomi daerah.
“Investor tidak akan datang jika tidak melihat stabilitas dan prospek jangka panjang. Artinya, tata kelola ekonomi Kuningan sudah berjalan di jalur yang benar,” ujar Dani Nuryadin. Proyek pembangunan infrastruktur publik serta geliat industri kecil dan UMKM menjadi penerima manfaat utama dari dorongan investasi ini.
Berbanding terbalik dengan konsumsi dan investasi, Konsumsi Akhir Pemerintah tercatat masih mengalami kontraksi, menurun -7,64 persen (Y-on-Y) pada Triwulan II. Kontraksi ini diduga kuat akibat terbatasnya realisasi belanja modal pada awal tahun anggaran. Namun, kategori “Lainnya” (mencakup ekspor netto) mencatat kinerja luar biasa positif, tumbuh 39,11 persen (Y-on-Y) pada Triwulan II, menandakan perbaikan signifikan pada sisi perdagangan luar daerah.
Secara keseluruhan, perekonomian Kuningan pada paruh pertama tahun 2025 berada dalam fase ekspansi yang kuat dan berkelanjutan. Kombinasi daya beli masyarakat yang terjaga, investasi yang meningkat, serta perbaikan ekspor dan produksi menjadi faktor utama penggerak pertumbuhan dua digit tersebut.
Meski memberikan apresiasi, KAHMI mengingatkan agar keberhasilan ini tidak membuat pemerintah daerah terlena. “Pertumbuhan ekonomi harus dijaga kualitasnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan pemerataan dan keberlanjutan. Jangan sampai hanya kelompok tertentu yang menikmati hasilnya,” kata Nanan. (ali)
