KUNINGAN — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan memasuki fase penting dalam upaya memastikan keamanan pangan bagi ribuan anak penerima manfaat. Hingga awal November 2025, proses sertifikasi kelayakan dapur pelaksana menunjukkan capaian signifikan yaitu 90% dapur telah mengajukan dokumen Surat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Namun, di tengah pencapaian itu, Satgas MBG Kuningan memilih langkah hati-hati, mendahulukan pembinaan dan pendampingan ketimbang penutupan.
Ketua Satgas MBG Kuningan, Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan bentuk kelonggaran, melainkan strategi proporsional yang mengedepankan keseimbangan antara kepatuhan regulasi dan keberlanjutan manfaat program.
“Kami memahami perhatian publik terhadap kebersihan dan keamanan dapur pelaksana MBG. Keamanan pangan anak-anak adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar,” kata Wahyu, Rabu (5/11/2025).
Wahyu memaparkan, dari total 104 dapur Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG) di Kuningan, 98 dapur telah beroperasi, sementara 94 dapur atau sekitar 90 persen telah mengajukan SLHS, surat resmi yang menandakan terpenuhinya standar kebersihan dan keamanan pangan.
Selain itu, seluruh dapur MBG telah melalui Inspeksi Kelayakan Lingkungan (IKL), dengan 94 dapur dinyatakan lolos uji lingkungan. Dari sisi pengujian laboratorium, 98 dapur telah diambil sampel makanannya, dan 88 di antaranya memenuhi syarat hasil pemeriksaan laboratorium.
Hingga kini, 67 dapur telah mengantongi SLHS, sedangkan 27 dapur lainnya masih menunggu proses penerbitan resmi, yang sebagian besar terkendala administrasi akhir.
“Artinya, hampir seluruh dapur telah menunjukkan keseriusan dan progres nyata. Mereka bergerak masif dan terstruktur untuk memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak aman,” ujar Wahyu.
