Kita tidak dipaksa. Namun kita dibiasakan. Dan yang paling berbahaya, semua ini terasa normal. Ketika konsumsi bergeser, produksi ikut melemah. Ketika produksi melemah, ketergantungan tumbuh. Dan ketika ketergantungan menguat, kedaulatan tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memudar.
Pelan. Tanpa suara. Di titik inilah negara tidak boleh sekadar hadir, negara harus berpihak. Bukan hanya berbicara tentang ketahanan pangan, tetapi memastikan pangan lokal benar-benar hidup di pasar. Bukan hanya mendorong produksi, tetapi menjamin hasil petani, nelayan, peternak, dan pekebun tidak kalah sebelum bersaing. Bukan hanya membuat kebijakan, tetapi membangun sistem yang menghubungkan produksi, distribusi, dan konsumsi dalam satu arah yang jelas.
Lebih dari itu, negara harus berani menghidupkan kembali hubungan antara pangan, budaya, dan kesehatan. Karena apa yang kita makan hari ini bukan hanya soal kenyang, tetapi soal kualitas manusia. Ketika konsumsi semakin didominasi produk olahan dan ketergantungan impor, dampaknya tidak berhenti di ekonomi. Ia masuk ke tubuh, ke kesehatan, ke daya tahan generasi.
Padahal bangsa yang kuat tidak hanya ditentukan oleh angka ekonomi, tetapi oleh manusia yang sehat, sadar, dan berakar. Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Tidak kekurangan budaya. Tidak kekurangan potensi.
Yang sedang diuji hari ini adalah keberanian untuk memilih. Apakah kita akan terus mengikuti arus yang memudahkan, atau mulai mengarahkan arus itu sendiri?
Karena pada akhirnya, identitas bangsa tidak hilang karena dihancurkan. Ia hilang ketika tidak lagi dipraktikkan. Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sudah mulai menukarnya, sedikit demi sedikit, dengan kemudahan.
Tulisan ini lahir dari kegelisahan sederhana. Tentang apa yang kita makan hari ini, dan apa yang akan kita wariskan esok hari..
Penulis: H. M. Yadi Suryadi || Dosen Kesehatan Masyarakat Unisa Kuningan
