Harapan untuk bisa menjalani terapi stroke sangat besar. Pihaknya tidak kuat menahan tangis ketika anaknya bertanya, kaki dede kenapa sih, engga bisa berdiri?. Ia berharap, jika trapi stroke bisa dijalankan dan anaknya sembuh, tahap berikutnya akan fokus mengobato epilepsi.
“Alhamdulillah kata dokter kista di kepalanya sudah tidak ada. Sekarang masih harus kontrol untuk ngecek bekas operasi dan terapi stroke. Tapi untuk terapi di wilayah sini tidak bisa pakai BPJS, harus ke rumah sakit,” tuturnya.
Diah mengaku hanya seorang diri mengurus anaknya sedikit dibantu ibu dan anak pertamanya. Suaminya harus bekerja di Purwakarta untuk menambah biaya pengobatan. Sedangkan waktu anak pertamanya terbatas karena masih sekolah di SMP setempat.
“Pernah ditemani anak pertama dua bulan di Cirebon sampai hampir tidak bisa sekolah lagi. Alhamdulillah dibantu Bu Kuwu dan pengertian dari pohak sekolah, si aa masih bisa lanjut belajar,” ungkapnya.
ARA merupakan anak dari pasutri, Utarkani dan Diah Rosdiana. Ia diketahui mengidap penyakit kista di kepala ketika usia 2 tahun 7 bulan setelah mengalami kejang dan penurunan kesadaran. Selama dua tahun lebih, ARA harus menjalani berbagai pemeriksaan medis di sejumlah fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan di Kunngan dan Cirebon. (Icu)
