
KUNINGAN – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) Kecamatan Ciniru tampak berbeda dari biasanya. Tidak hanya upacara, kesempatan 22 Oktober itu diisi unjuk kemampuan para santri.
HSN di Kecamatan Ciniru dimulai sejak 18 Oktober. Beragam lomba digelar dan diikuti remaja dan anak-anak termasuk para santri dari setiap desa se-Kecamatan Ciniru. Sebagai ciri khas, pada momen puncak itu tampil juga kesenian bela diri Pagar Nusa.
Ratusan warga dari berbagai kalangan memenuhi lapang bola kecamatan setempat. Terik matahari tidak membungkam semangat warga untuk mengenang dan menghidupkan kembali spirit resolusi jihad yang pernah didengungkan 81 tahun silam itu.
Plt. Camat Ciniru, H. Diding Wahyudin, menyambut baik semangat para santri dan elemen masyarakat lainnya yang sudah memeriahkan rangkaian acara. Menurutnya, momen tersebut merupakan penggugah spirit perjuangan para kiai dan santri masa lalu yang harus terus dirawat dan dihidupkan dalam konteks kekinian.
“Alhamdulillah Ciniru punya banyak pesantren dan santri, hampir di setiap desa ada. Mudah-mudahan resolusi jihadnya terus hidup dan sesuai zaman yang terus berkembang,” tuturnya Kamis (22/10/2026)
Menurutnya, jika resolusi jihad yang digaungkan oleh, KH. Hasyim Asyari, merujuk pada spirit perjuangan melawan penjajah Belanda yang hendak kembali merebut kemerdekaan RI, maka saat ini pemaknaan tersebut harus berubah pada konteks yang berbeda.
Para santri dan warga negara Indonesia, menurutnya, tidak lagi berhadapan dengan Belanda secara fisik, melainkan model penjajahan baru yang terus berupaya merusak kecintaan warga terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Zaman terus berubah. Mari tumbuhkan spirit perjuangan para ulama di era transformasi dandigitalisasi ini, dengan tetap berpedoman atau tetap dilandaskan nilai-nilai islam yang pernah dilakukannya. Mari ikuti semangat juangnya melawan rasa malas, perpecahan, demi kemajuan bangsa,” ujarnya.***




