Membagikan nasi bogana kepada warga adalah cara keraton menjaga ikatan batin dengan rakyatnya. Di bangsal itu, tidak ada sekat antara darah biru dan masyarakat jelata. Semua duduk bersila, menikmati hidangan yang sama, dan mengamini doa yang serupa. Ini adalah bentuk komunikasi budaya yang efektif, di mana keraton memosisikan diri bukan sebagai menara gading, melainkan sebagai pengayom spiritual.
Bertahannya Rajaban hingga tahun 2026 membuktikan bahwa Keraton Kasepuhan masih memegang peran penting sebagai penjaga gawang kebudayaan di Jawa Barat. Di saat banyak tradisi luluh lantak diterjang arus digitalisasi, Kasepuhan justru menjadikannya sebagai jembatan.
Para pengamat budaya melihat Rajaban sebagai cara Cirebon mendefinisikan jati dirinya. Cirebon bukan hanya soal pelabuhan atau industri, tapi soal “pusaka” yang hidup. Tradisi ini adalah jangkar yang menahan masyarakatnya agar tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman.
Pesan Patih Sepuh di akhir acara pun terdengar lugas, jangan sampai peristiwa historis ini hanya berakhir di atas piring nasi bogana. “Sebagai umat muslim, kita jangan sampai melupakan Isra Mi’raj, karena di situlah perintah salat lima waktu diturunkan langsung,” katanya.
Di Bangsal Pringgadani hari itu, sejarah tidak hanya diceritakan, tapi dirasakan kembali lewat aroma kemenyan, doa yang lamat-lamat, dan kehangatan nasi yang dibungkus daun. (Frans)
