Tamrinan dirancang untuk melatih keberanian santri tampil di depan umum sekaligus membiasakan mereka menyampaikan ilmu dengan bahasa yang santun dan penuh hikmah. Melalui kegiatan tersebut, santri tidak hanya diasah secara intelektual, tetapi juga dibentuk kematangan mental dan karakter kepribadiannya.
Dalam pelaksanaannya, para santri mendapat peran dan tanggung jawab yang berbeda-beda. Mulai dari menjadi MC, pembaca ayat suci Al-Qur’an, pembawa hadoroh dan sholawat, penyampai sambutan, tausiyah, hingga pembacaan doa. Setiap penampilan menjadi proses belajar nyata untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan jiwa tanggung jawab.
Pembina pondok, Jaza Zainudin, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekedar rutinitas seremonial. Menurutnya, Tamrinan merupakan bagian penting dari pembentukan karakter santri secara menyeluruh.
“Melalui latihan ini, kami ingin membiasakan santri untuk berani berbicara di depan umum dan menyampaikan kebaikan. Dakwah bukan hanya soal penguasaan ilmu, tetapi juga kesiapan mental serta akhlak yang baik,” ujarnya.
Ia berharap, dengan kesempatan yang diberikan secara merata, para santri mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, komunikatif, namun tetap rendah hati.
Kegiatan berlangsung tertib dan penuh antusias. Para santri terlihat serius mempersiapkan penampilan, mulai dari menyusun teks, melatih intonasi, hingga memperdalam materi tausiyah. Dukungan para ustadz dan sesama santri turut menambah semangat, menjadikan Tamrinan sebagai momentum penting dalam mencetak generasi yang siap berdakwah dan bermanfaat bagi masyarakat. (Icu)
previous post
