
KUNINGAN – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif Kelompok 4 di Desa Kadatuan, Kecamatan Garawangi, menjadikan penguatan pendidikan masyarakat sebagai fokus utama pengabdian. Kegiatan dilaksanakan selama 30 hari, mulai 15 Juli hingga 15 Agustus 2026.
Melalui pendekatan berbasis partisipasi masyarakat, mahasiswa berupaya membangun budaya belajar, kepedulian sosial, dan pemberdayaan warga sebagai fondasi pembangunan desa.
Kegiatan diawali dengan pelepasan mahasiswa KKN Kolaboratif di Gedung Sekretariat Daerah Kabupaten Kuningan yang dipimpin langsung oleh Bupati Kuningan, serta dihadiri para rektor dan jajaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Kuningan.
Setibanya di Desa Kadatuan, mahasiswa memulai pengabdian dengan bergotong royong membersihkan posko KKN yang berada di tengah permukiman warga. Kegiatan tersebut menjadi langkah awal membangun kedekatan dengan masyarakat sekaligus menanamkan nilai kebersamaan sebagai bagian dari proses pendidikan sosial.
Ketua Kelompok 4 KKN Kolaboratif Desa Kadatuan, Galih Albi, mengatakan bahwa penguatan pendidikan masyarakat tidak hanya dilakukan melalui kegiatan di sekolah, tetapi juga dengan membangun komunikasi dan pembelajaran bersama seluruh elemen desa.
”Kami ingin menghadirkan pendidikan yang dekat dengan masyarakat. Karena itu, sebelum menjalankan program kerja, kami memilih untuk mengenal lebih dalam kondisi sosial, budaya, dan kebutuhan warga melalui program ‘Griya Sawarga’. Dari proses inilah kami belajar sekaligus menyusun program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya, Selasa, (21/7/2026).
Melalui program tersebut, mahasiswa bersilaturahmi dengan aparatur desa, siswa SD dan PAUD, Ketua Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga warga di lingkungan sekitar. Pendekatan ini menjadi sarana belajar bersama agar program pengabdian tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat nyata.
Hasil dialog bersama masyarakat menunjukkan bahwa Desa Kadatuan memiliki potensi besar di bidang pendidikan keagamaan, pertanian, dan olahraga. Di sisi lain, persoalan pengelolaan sampah serta pencegahan stunting menjadi isu yang memerlukan edukasi dan keterlibatan seluruh warga.
Galih menegaskan, KKN merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang bertujuan menghadirkan pendidikan sebagai proses pemberdayaan.
Melalui berbagai program yang akan dilaksanakan, ia berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan, kesehatan keluarga, serta memperkuat semangat gotong royong.
”Harapan kami, KKN ini menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat untuk saling belajar. Ketika masyarakat semakin berdaya melalui pendidikan, maka pembangunan desa juga akan berjalan lebih kuat dan berkelanjutan,” tutupnya.




