Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Sukarno Ali, mengatakan pendirian Pondok Pesantren At-Tawabin diharapkan menjadi ruang pembinaan yang mampu membentuk karakter warga binaan secara menyeluruh. Menurut dia, pendekatan keagamaan memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran diri, memperkuat nilai moral, serta mempersiapkan warga binaan untuk kembali ke tengah masyarakat.
“Pembinaan keagamaan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga proses pembentukan karakter dan tanggung jawab sosial. Kami berharap Pondok Pesantren At-Tawabin bisa menjadi wadah pembinaan yang terarah dan berkelanjutan,” ujar Sukarno Ali.
Ia menambahkan, keberadaan pesantren di dalam lapas juga sejalan dengan semangat pemasyarakatan modern yang menekankan aspek rehabilitasi dan reintegrasi sosial, bukan semata-mata penghukuman.
Koordinasi ini, menurut Sukarno, baru tahap awal. Ke depan, Lapas Kelas IIA Kuningan bersama Kementerian Agama dan MUI Kabupaten Kuningan akan menindaklanjuti dengan penyusunan perencanaan teknis, regulasi pendukung, serta pembagian peran yang jelas antarinstansi. Langkah tersebut diperlukan agar pendirian Pondok Pesantren At-Tawabin dapat berjalan sesuai ketentuan dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Jika terealisasi, pesantren ini diharapkan menjadi model pembinaan keagamaan di lingkungan pemasyarakatan, sekaligus memperkuat pelaksanaan Program 15 Akselerasi di bidang pembinaan kepribadian warga binaan. (ali)
