Total ada empat hari khusus di awal puasa. Namun ini bukan libur tanpa aktivitas. Dalam ketentuannya, siswa tidak masuk sekolah, tetapi tetap menjalani pembelajaran mandiri di lingkungan keluarga, tempat ibadah, dan masyarakat sesuai penugasan dari sekolah. Dengan kata lain, anak belajar di rumah, bukan berlibur sepenuhnya.
Aturan ini memberi ruang adaptasi fisik dan psikologis bagi siswa yang baru menjalani puasa, tanpa memutus proses belajar. Sekolah bahkan diberi kewenangan menetapkan hari efektif fakultatif. Jika hari tersebut dinyatakan efektif, pembelajaran tetap berlangsung di sekolah dengan durasi jam pelajaran yang disesuaikan Ramadan.
Fokus kegiatan Ramadan di Jawa Timur juga ditegaskan pada penguatan iman, takwa, akhlak mulia, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Polanya sangat mirip pesantren kilat, tetapi dengan payung regulasi yang lebih sistematis.
Tradisi adaptasi di awal puasa sejatinya bukan hal baru. Sejak lama, sekolah memberi kelonggaran di hari-hari pertama Ramadan agar siswa menyesuaikan ritme tubuh dan konsentrasi. Setelah masa adaptasi, pembelajaran kembali berjalan dengan jam yang lebih singkat dan kegiatan keagamaan yang diperkuat.
Libur panjang justru terjadi di akhir Ramadan. Mengacu pada SKB Tiga Menteri, akhir Ramadan 2026 berdekatan dengan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri. Nyepi jatuh pada 18–19 Maret 2026, disusul rangkaian cuti bersama dan Idul Fitri pada 20–24 Maret. Kombinasi ini membuat libur akhir puasa jauh lebih panjang dibanding awal Ramadan.
Meski edaran pusat belum terbit, polanya sudah terlihat. DKI diperkirakan libur 16–20 Februari, Jawa Barat sekitar 20–23 Februari, sementara Jawa Timur menerapkan empat hari adaptasi belajar mandiri. Bagi orang tua, informasi ini setidaknya bisa menjadi pegangan awal untuk menyiapkan pendampingan anak di hari-hari pertama Ramadan menjaga keseimbangan antara ibadah, istirahat, dan proses belajar yang tetap berjalan. (red)
