Pada saat ini dengan deranya arus globalisasi memudahkan budaya luar masuk ke Indonesia. Hal ini mengahwatirkan terhadap perkembangan generasi muda yaitu terutama teknologi. Globalisasi merupakan pertumbuhan yang sangat cepat yang saling ketergantungan dan hubungan antar negara di dunia dalam hal perdagangan dan keuangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa globalisasi adalah fenomena dalam kehidupan manusia yang bergerak dan berkembang secara terus menerus.
Perkembangan teknologi dan internet saat ini belum ditanggapi serius oleh generasi muda. Masih banyak yang tidak peduli, termasuk tentang ideologi negara. Generasi ini lebih bangga akan budaya asing dan ketika mengikuti trend dianggap sesuatu yang keren dan dapat dibanggakan. Sehingga, era globalisasi ini semakin mengancam eksistensi kepribadian bangsa, dan kini mau tak mau, suka tidak suka, bangsa Indonesia berada di pusaran arus globalisasi dunia.
Sejatinya, bangsa dan negara Indonesia tidak kehilangan jati diri, meskipun hidup diantara pergaulan dunia. Pengaruh dari globalisasi ini tidak bisa dihindari yang perlu kita lakukan yaitu menyaring memilah dan memilih hal-hal yang positif. Jangan sampai generasi saat ini lebih bangga akan budaya dan berprilaku seperti orang luar tetapi bangsa sendirinya tidak dihiraukan.
Kenichi Ohmae (1995) berpendapat bahwa, punahnya suatu bangsa disebabkan oleh empat “I”, diantaranya: industri, investasi, individu, dan informasi. Untuk itu pentingnya pendidikan Pancasila diselenggarakan kembali di seluruh tingkatan pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai moral Pancasila kepada generasi penerus cita-cita bangsa. []
Ditulis oleh: Alfiatu Zahra Fauziah, mahasiswi Universitas Islam Al-Ihya Kuningan
