Anna mengungkapkan, sejumlah alumni Uniku kini telah bekerja di perusahaan multinasional dan berkiprah di luar negeri. Capaian tersebut, menurut dia, menjadi salah satu indikator kualitas lulusan sekaligus bagian dari penilaian akreditasi. Karena itu, Uniku terus mendorong kerja sama internasional untuk memperluas akses mahasiswa.
Ia juga menyinggung posisi Uniku di tingkat provinsi. Pada tahun sebelumnya, kampus ini tercatat sebagai peraih peringkat ketiga penerima hibah penelitian di Jawa Barat. “Ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi di daerah juga mampu bersaing,” katanya.
Dari sisi media, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kuningan Kuningan, Nunung Khasanah, menyambut positif inisiatif Uniku. Ia menilai, tidak semua institusi memiliki keterbukaan yang sama dalam membangun komunikasi dengan pers.
“Uniku relatif terbuka dan responsif. Ini penting agar informasi yang sampai ke publik tetap berimbang,” ujar Nunung. Ia berharap, kerja sama tersebut dapat terus terjaga dalam jangka panjang, tidak hanya saat agenda seremonial.
Media Gathering 2026 ini memperlihatkan bahwa relasi kampus dan pers di Kuningan tidak sebatas hubungan formal. Di tengah derasnya arus informasi digital dan kompetisi antarperguruan tinggi, pertemuan semacam ini menjadi ruang negosiasi kepentingan antara kebutuhan kampus membangun citra, dan tanggung jawab media menjaga akurasi.
Bagi Uniku, media bukan hanya corong publikasi. Bagi jurnalis, kampus adalah salah satu simpul penting produksi pengetahuan. Di titik inilah, kerja sama keduanya diuji, apakah hanya berhenti pada seremoni, atau benar-benar menjadi kemitraan yang kritis dan berkelanjutan. (Ali)
