Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s
Opini

Pancasila Harus Jadi Paradigma yang Hidup

Laila Apriliani, Mahasiswi UNISA Kuningan

Oleh karena itu, mahasiswa dan generasi muda harus menjadi agen literasi digital. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain: memverifikasi kredibilitas sumber, memahami tujuan dari informasi, memeriksa legalitas situs penyebar informasi, melihat relevansi waktu publikasi, serta meninjau frekuensi pembaruan dari media tersebut. Kecakapan ini sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial di tengah derasnya arus informasi (BPIP, 2021).

Globalisasi juga berdampak pada pola pergaulan generasi muda. Meningkatnya kebebasan sosial telah memunculkan berbagai perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga dekadensi moral. Fenomena ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai budaya Indonesia. Maka, pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga moralitas bangsa (Haryatmoko, 2016).

Implementasi nilai-nilai Pancasila secara konsisten diyakini mampu memperkuat integritas generasi muda. Pendidikan karakter perlu dijalankan secara menyeluruh—mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Dalam hal ini, semangat nasionalisme harus terus digelorakan untuk menjaga eksistensi bangsa Indonesia di tengah kompetisi global (UNESCO, 2021).

Pancasila tidak dapat diartikan secara parsial. Kelima silanya merupakan satu kesatuan nilai yang saling melengkapi: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Ketidakseimbangan dalam penerapannya dapat memicu disintegrasi dan konflik sosial. Oleh karena itu, semangat gotong royong, toleransi, dan solidaritas harus terus dirawat oleh generasi muda, khususnya mahasiswa yang memiliki peran strategis sebagai agen perubahan (Suyanto, 2020).

Kegiatan edukatif seperti seminar, lomba, dan pelatihan berbasis nilai-nilai Pancasila perlu digalakkan untuk menghidupkan kembali nasionalisme, yang kini kerap tergerus oleh budaya luar. Pemuda harus memahami makna “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai simbol pemersatu bangsa dalam keberagaman (Kemdikbud, 2022).

Generasi muda tidak hanya dituntut untuk mempertahankan budaya, tetapi juga harus mampu memanfaatkan teknologi untuk mengenalkan budaya Indonesia ke dunia. Media sosial dapat dijadikan alat untuk menyebarluaskan konten positif yang memperkuat identitas nasional. Dalam hal ini, pemuda bisa menjadi penghubung yang menciptakan jejaring sosial yang sehat, mendukung harmoni, serta memperkuat fondasi kehidupan berbangsa (UNESCO, 2021).

Baca Juga :  Teknologi Melesat, Mental Guru jangan Tertinggal

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter yang berakar pada semangat nasionalisme. Momen-momen seperti Hari Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan, dan Hari Kemerdekaan merupakan kesempatan yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai patriotik kepada generasi muda []

Ditulis oleh: Laila Apriliani, Mahasiswi Universitas Islam Al-Ihya Kuningan

Related posts

Pemkab Kuningan Salurkan 94 Unit Alsintan untuk Kelompok Tani

Cikal

Dilantik, KOMPAKDESI Kompak Dukung Kuningan Melesat

Cikal

Babak Baru Kasus RS Linggajati: Polisi Kantongi Bukti Kelalaian Medis

Alvaro

Leave a Comment