Cikalpedia
”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s ”site’s
Cerpen

Pedagang Opini

Namanya Barong. Di mata publik, ia tampak seperti sosok pemberani, “penyambung lidah rakyat” kata media.

Setiap minggu, ia mengirim rilis kritik ke berbagai redaksi. Tentang proyek infrastruktur yang molor, tentang pejabat yang dianggap tidak becus, tentang program bantuan yang katanya tak tepat sasaran.

Media-media lokal menyambutnya seperti kawan lama. Headlinenya selalu bombastis:

“Barong Guncang Kantor Dinas Lagi!”
“Barong Soroti Anggaran Tak Transparan!”

Wartawan menyukainya, berita darinya selalu ramai diklik.

Namun, di balik gemuruh pemberitaan itu, ada senyum kecil di bibir Barong.

Senyum yang muncul bukan karena puas menegakkan kebenaran, melainkan karena satu hal, panggungnya semakin besar.

Setiap kali satu berita tayang, ponselnya bergetar.
Bukan dari masyarakat yang berterima kasih, tapi dari pejabat yang gelisah.

Nada suara mereka serupa penuh basa-basi, lalu pelan-pelan mengalir ke inti percakapan:

“Mas Barong… bisa kita bicarakan baik-baik ya, jangan sampai berita ini melebar…”

Dan di situlah seni tawar-menawar dimulai.

Kritik berubah menjadi mata uang.
Kalimat tajam bisa tumpul jika ada “biaya klarifikasi”.

Nama yang tadinya hendak disorot, bisa tiba-tiba hilang dari rilis berikutnya, tentu saja setelah kopi darat yang penuh pengertian.

Lucunya, media tetap menulisnya sebagai sosok idealis.

“Barong, Tak Takut Siapa Pun.”
Padahal di malam yang sama, ia sedang makan malam di restoran mahal, disuguhi senyum manis oleh orang yang baru saja ia kritik keras minggu lalu.

Dalam hati, Barong tertawa lirih.

“Mereka pikir aku berani karena idealis. Padahal aku berani karena tahu harga beraniku.”

Lama-lama, ia jadi ahli memainkan dua peran:
Di depan publik, pengkritik lantang.
Di belakang layar, negosiator ulung.

Tapi hidup selalu punya cara menagih.
Suatu hari, media yang dulu jadi kawan mulai curiga.

Baca Juga :  Bayangan di Balik Layar

Ada bocoran dari redaksi lain, tentang pertemuan diam-diam, tentang amplop yang bergeser arah.

Dan saat berita itu muncul dengan judul besar “Barong Sang Kritikus Bayaran?”, Barong hanya bisa menatap layar ponselnya yang kini sepi.

Tak ada lagi panggung. Tak ada lagi telepon.
Yang tersisa hanyalah gema dari kata-kata yang dulu ia sebarkan sendiri.

Di depan cermin, ia berbisik:

“Ternyata aku bukan pengkritik… aku hanya pedagang opini.”

Dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya tak lagi terasa manis, melainkan getir. (Beng).

Hanya Fiksi by Bengpri

Leave a Comment