Cikalpedia
”site’s ”site’s
Cerpen

Pedagang Opini

Lucunya, media tetap menulisnya sebagai sosok idealis.

“Barong, Tak Takut Siapa Pun.”
Padahal di malam yang sama, ia sedang makan malam di restoran mahal, disuguhi senyum manis oleh orang yang baru saja ia kritik keras minggu lalu.

Dalam hati, Barong tertawa lirih.

“Mereka pikir aku berani karena idealis. Padahal aku berani karena tahu harga beraniku.”

Lama-lama, ia jadi ahli memainkan dua peran:
Di depan publik, pengkritik lantang.
Di belakang layar, negosiator ulung.

Tapi hidup selalu punya cara menagih.
Suatu hari, media yang dulu jadi kawan mulai curiga.

Ada bocoran dari redaksi lain, tentang pertemuan diam-diam, tentang amplop yang bergeser arah.

Dan saat berita itu muncul dengan judul besar “Barong Sang Kritikus Bayaran?”, Barong hanya bisa menatap layar ponselnya yang kini sepi.

Tak ada lagi panggung. Tak ada lagi telepon.
Yang tersisa hanyalah gema dari kata-kata yang dulu ia sebarkan sendiri.

Di depan cermin, ia berbisik:

“Ternyata aku bukan pengkritik… aku hanya pedagang opini.”

Dan untuk pertama kalinya, senyum di wajahnya tak lagi terasa manis, melainkan getir. (Beng).

Hanya Fiksi by Bengpri

Baca Juga :  Kebakaran Rumah Kembali Terjadi, Kerugian Hampir 150 Juta

Related posts

Kuningan Darurat Data, Akademisi Kritik Minimnya Akses dan Akurasi

Alvaro

Tak Bayar Pajak, Reklame Pusat Gadai di Kuningan Disegel

Cikal

Proton FC Gandeng Guru Olahraga Kuningan, Siapkan Bakat Futsal Sejak SD

Cikal

Leave a Comment