
KUNINGAN – Pengelolaan sampah yang belum optimal di Bank Sampah Induk (BSI) Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur kembali jadi sorotan. Warga mengeluh tempat sampah yang terpusat di RT 11 Dusun Cilame itu menimbulkan polusi dan sumber penyakit.
Tempat sampah yang berjarak sekitar 100 meter dari pemukiman itu dikeluhkan warga karena menimbulkan bau menyengat dan mengundang lalat. Warga khawatir, jika tidak segera ditangani masyarakat terkena dampak buruk atau hal lain yang tidak diharapkan.
Atang, salah seorang warga Kelurahan Cipari menyampaikan bahwa keberadaan tempat sampah di lokasi itu merupakan program Bank Sampah Induk (BSI) yang sudah satu tahun dibentuk tetapi belum ada penanganan maksimal. Ia mengaku merasa tidak nyaman karena aroma tak sedap kerap tercium hingga ke dalam rumah.
“Sangat mengganggu, karena polusi, dan banyak lalat juga. Apalagi tempatnya berdampingan dengan lokasi olahraga, sangat kurang nyaman,” ujarnya.
Menurutnya, sampah di lokasi itu bersumber dari warga sekitar sehingga didominasi sampah rumahan. Hanya saja di luar itu, terdapat sampah kiriman dari orang-orang tidak bertanggung jawab, termasuk perusahaan yang ada di sekitarnya. Atang menyebut, kalau khusus dari warga, jumlah sampah tidak sebanyak itu.
Sementara itu, Yono Ramansyah selaku Camat Cigugur menyampaikan bahwa pihak kecamatan telah menerima laporan tersebut dari warga terkait polemik tersebut. Menurutnya, penumpukan sampah itu diduga ada pihak luar yang membuang sampah ke BSI tanpa izin, sehingga volume sampah meningkat dan melebihi kapasitas yang seharusnya.
“Sampah di Cipari itu terjadi penumpukan. Kemarin, saya mencari informasi mengenai sebab penumpukan itu dan ada pihak luar yang masuk, tapi isu ini harus diselediki lebih lanjut,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, (4/3/2026).
Menyikapi hal itu, Camat, pihak kelurahan, serta masyarakat setempat berdiskusi untuk mencari solusi dari persoalan, pada Selasa, (4/3/2026). Menurutnya, pertemuan itu mendiskusikan tentang kelembagaan pengurus sampah.
“Kemarin kami dengan kelurahan berdiskusi soal kelembagaan. Jadi komposisi pengurus sampah ada perubahan, karena waktu dulu SK nya dari saya. Tadi saya mendapatkan informasi terbaru, katanya dari Dinas Lingkungan Hidup. Soal SK ini yaa silahkan saja, yang penting bisa menyelesaikan persoalan itu,” katanya.
Belajar dari persoalan itu, Yono mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan langkah preventif mengenai program inovasi sampah yang memiliki daya jual. Menurutnya, pendekatan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci agar persoalan sampah tidak terus berulang.
“Langkah pertama tentu kami akan menyelesaikan sampah yang numpuk itu. Kedua, kita akan ada penguatan pengelolaan kelembagaan sampah di Cipari. Ke depan, kami ingin sampah itu tidak dibuang ke TPA Ciniru, tetapi dikelola oleh setiap kelurahan atau desa. ini program jangka panjang kami,” tutupnya. (Icu)




