
KUNINGAN – Ajang Proton Super Cup Jawa Barat kembali digelar dan menjadi salah satu wadah pembinaan atlet futsal usia dini hingga remaja. Kali ini program tersebut digelar di GOR Ewangga Kabupaten Kuningan, sejak 5 Agustus lalu.
Kompetisi yang berlangsung setiap tahun itu digelar sampai tanggal 18 Agustus. Tidak hanya menjadi arena adu kemampuan antar tim, tetapi juga diarahkan untuk menjaring bibit-bibit potensial dari berbagai kelompok usia.
Proton Super Cup sendiri merupakan kompetisi yang diselenggarakan di kabupaten/kota se-Jawa Barat. Pelaksanaan tahun ini menjadi kali ketiga ajang tersebut berada di bawah penyelenggaraan Proton dengan mengusung nama Proton Super Cup se-Jawa Barat.
Kompetisi tersebut mempertandingkan lima kategori, yakni SD, SMP Putra, SMP Putri, SMA Putra, dan SMA Putri. Jumlah peserta yang mengikuti kompetisi tersebut mencapai sekitar 59 tim. Rinciannya, kategori SD diikuti 16 tim yang terbagi dalam empat grup, SMP Putra sebanyak 19 tim dalam lima grup, SMP Putri sembilan tim, SMA Putra 18 tim, serta SMA Putri delapan tim.
Berbeda dengan sistem gugur, pertandingan Proton Super Cup menggunakan sistem grup, sehingga setiap tim memiliki kesempatan untuk menguji kemampuan mereka dalam beberapa pertandingan sebelum melangkah ke fase berikutnya.
Cecep Nurshobah menyebut, kompetisi tersebut memiliki potensi besar sebagai bagian dari proses pencarian dan pembinaan pemain muda. Sebab, peserta berasal dari rentang usia yang cukup luas, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.
“Bisa jadi. Soalnya kan ini dari usia SD, sudah dari grassroots. Kita dibentuknya dari usia dini, usia SMP, SMA. Jadi berbagai usia ada,” ujarnya, Senin, (10/8/2026).
Menurutnya, pemain-pemain yang menunjukkan potensi selama kompetisi nantinya dapat menjadi bagian dari proses pembinaan lanjutan, termasuk peluang untuk masuk ke akademi maupun mengikuti berbagai ajang futsal lainnya di Jawa Barat.
“Nanti kan bisa direkrut untuk akademi atau untuk event-event yang lain di Jawa Barat,” katanya.
Saat ini kompetisi masih memasuki fase grup. Masing-masing tim berupaya maksimal untuk bisa mencapau final yang dijadwalkan pada 18 Agustus 2026.
Selain mencari pemain berbakat, lanjut Cecep, penyelenggaraan Proton Super Cup juga didorong untuk meningkatkan kualitas pembinaan futsal. Salah satunya melalui keterlibatan pelatih yang memiliki kompetensi dan lisensi kepelatihan.
“Sekarang diwajibkan untuk minimal pelatih itu berlisensi nasional. Jadi ke depannya event-event itu diharapkan punya kualitasnya,” tuturnya.
Ia berharap, keberadaan pelatih yang berkualitas dapat membuat proses pembinaan pemain muda berjalan lebih terarah dan terintegrasi. Dengan demikian, kompetisi futsal tidak berhenti pada perebutan juara, tetapi juga mampu mencetak pemain-pemain potensial yang dapat berkembang ke jenjang lebih tinggi.
“Jadi ke depannya event-event juga selain Super Cup bisa mengadakan yang lebih baik. Bisa menciptakan bibit-bibit unggul, khususnya di Kabupaten Kuningan,” tutupnya.




