CIREBON – Menjelang arus mudik dan balik Idul Fitri 1447 Hijriah, Polres Cirebon Kota mulai memanaskan mesin pengamanan lalu lintas. Senin, (2/2/2026), kepolisian setempat menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Keselamatan Lodaya 2026 sebagai penanda dimulainya rangkaian upaya cipta kondisi di wilayah hukumnya.

Apel tersebut menjadi titik awal kesiapan personel, sarana, dan prasarana sebelum operasi resmi digelar. Bertempat di halaman Mapolres Cirebon Kota, ratusan personel tampak mengikuti kegiatan yang dipimpin Wakapolres Cirebon Kota, Kompol Dede Kasmadi, mewakili Kapolres AKBP Eko Iskandar.

Dalam amanat yang dibacakan, Kompol Dede menegaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari tanggung jawab Polri dalam menjaga keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas atau kamseltibcarlantas. Tugas tersebut, kata dia, sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Apel gelar pasukan ini dimaksudkan untuk memastikan kesiapan seluruh unsur yang terlibat sebelum pelaksanaan Operasi Keselamatan Lodaya 2026,” ujar Dede, didampingi Kasat Lantas AKP Ridwans.

Operasi Keselamatan Lodaya 2026 digelar selama 14 hari, mulai 2 hingga 15 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan serentak di seluruh wilayah hukum Polda Jawa Barat. Sebanyak 2.606 personel dikerahkan, terdiri atas 480 personel dari tingkat Polda dan 2.126 personel dari jajaran Polres.

Menurut Dede, operasi ini bukan semata-mata bertujuan menindak pelanggaran lalu lintas. Lebih dari itu, kepolisian ingin membangun kesadaran masyarakat melalui pendekatan preemtif dan preventif, disertai penegakan hukum yang humanis.

“Mewujudkan lalu lintas yang aman dan tertib membutuhkan sinergi semua pihak. Upaya edukasi dan pencegahan harus dikedepankan, tanpa mengesampingkan penindakan,” katanya.

Data evaluasi pelaksanaan Operasi Keselamatan Lodaya tahun sebelumnya menjadi salah satu pijakan optimisme kepolisian. Pada 2025, tercatat 159 kasus kecelakaan lalu lintas, turun signifikan dibandingkan 333 kejadian pada 2024. Penurunan mencapai 52 persen. Jumlah korban meninggal dunia juga turun 59 persen, sementara korban luka ringan menurun 50 persen. Meski demikian, korban luka berat tercatat naik 12 persen.

Dede menilai data tersebut menunjukkan efektivitas pendekatan yang selama ini dijalankan. Namun, ia mengingatkan agar seluruh jajaran tidak lengah, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat menuju Lebaran.

Operasi tahun ini menargetkan berbagai potensi gangguan lalu lintas, mulai dari pelanggaran, kemacetan, hingga kecelakaan. Fokus pengawasan diarahkan pada kendaraan angkutan umum, khususnya bus pariwisata dan kendaraan travel. Selain itu, kepolisian juga akan melakukan ramp check terhadap armada angkutan di lokasi-lokasi strategis dan kawasan dengan mobilitas tinggi.
Pengawasan dilakukan baik di jalan tol maupun jalan arteri yang menjadi kewenangan Polri. Seluruh wilayah hukum Polda Jawa Barat masuk dalam cakupan operasi ini.

Dalam arahannya, Wakapolres menekankan pentingnya profesionalisme dan sikap humanis di lapangan. Ia meminta personel menghindari tindakan arogan dan kontraproduktif, serta mengutamakan keselamatan diri dan pengguna jalan.

“Kehadiran Polri harus memberi rasa aman dan nyaman bagi masyarakat. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab,” kata Dede.

Operasi Keselamatan Lodaya 2026 menjadi bagian dari rangkaian pengamanan menjelang Operasi Ketupat Lodaya, yang akan digelar saat puncak arus mudik dan balik Lebaran. Melalui operasi ini, kepolisian berharap situasi lalu lintas di Cirebon dan Jawa Barat secara umum dapat berlangsung lebih tertib, aman, dan selamat. (frans)