KUNINGAN – Kawasan Cikandang, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, bukan sekedar titik geografis, akan menjadi saksi bisu transformasi mental para “anak negara”. Di lahan yang kini meluas hingga delapan hektare, pembangunan Sekolah Rakyat sedang dibangun, proyek mercusuar Presiden Prabowo Subianto akan membuktikan bahwa keadilan sosial bukan sekedar jargon di atas kertas pidato.
Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, H. Rokhmat Ardiyan, turun langsung ke Sekolah Rakyat Sementara di SMPN 6 Kuningan dengan jumlah siswa sekitar 77 orang itu pada Kamis (7/5/2026) untuk menagih janji perubahan tersebut. Baginya, kunjungan ini adalah soal memvalidasi rasa, sejauh mana negara benar-benar hadir di ruang kelas.
Selain itu tampak hadir, Wakil Bupati Kuningan, Hj. Tuti Andriani, Kepala Dinas Sosial Kuningan, Tatik Ratna Mustika, dan jajaran Dinas Sosial Kuningan.
Ardiyan membawa memori setahun silam saat program ini pertama kali digulirkan. Kala itu, atmosfer sekolah dipenuhi mendung kecemasan. Ia mengenang wajah-wajah siswa yang sembab karena tangis dan orang tua yang diliputi keraguan mendalam akan masa depan anak-anak mereka di bawah sistem baru ini.
Namun, hari ini, ia menjumpai realitas yang kontras. “Saya menyaksikan sendiri awal pembukaan banyak siswa yang menangis, takut, dan ragu. Tapi hari ini, setelah ketekunan kepala sekolah dan para guru, saya melihat anak-anak begitu antusias. Mereka lebih percaya diri dan memiliki semangat luar biasa,” ujar Ardiyan dengan nada puas.
Transformasi dari rasa minder menjadi kepercayaan diri ini, menurut Ardiyan, adalah kemenangan pertama. Ia memuji kolaborasi antara tenaga pendidik dan Pemerintah Kabupaten Kuningan yang gigih meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan adalah pintu keluar tunggal dari jerat kemiskinan dan ketertinggalan.
Ardiyan menekankan bahwa Sekolah Rakyat adalah bentuk konkret dari diktum “Negara Hadir”. Tak tanggung-tanggung, anggaran yang digelontorkan mencapai Rp48 juta per siswa per tahun. Angka fantastis ini disiapkan untuk memastikan putra-putri terbaik Kuningan mendapatkan hak pendidikan tanpa sekat finansial.
Targetnya ambisius pada tahun 2027, sekolah rakyat diharapkan mampu menampung 1.000 siswa pilihan. Dengan luas lahan yang kini telah mencapai 8 hektare di Cikandang, proyek ini juga diproyeksikan sebagai mesin penggerak ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja baru di wilayah tersebut.
“Inilah keadilan sosial yang dicanangkan Presiden Prabowo. Agar tidak ada lagi yang buta huruf, terbelakang, dan miskin,” tegasnya.
Meski memuji capaian yang ada, Ardiyan tetap menyisipkan nada peringatan. Ia mengingatkan bahwa dana yang digunakan adalah uang negara yang harus dipertanggungjawabkan secara moral dan administratif. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak sekedar menjadi penonton, tetapi menjadi pengawal jalannya program ini.
“Ini uang negara, program negara. Mari kita kawal bersama untuk kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara,” pungkas Ardiyan, seraya berharap Sekolah Rakyat di kaki Gunung Ciremai ini menjadi prototipe pendidikan terbaik di Indonesia. ***
