
KUNINGAN — Lapangan sepak bola Desa Subang, Kecamatan Subang, Kabupaten Kuningan, tak seperti biasanya pada Selasa pagi, (8/9/2026). Ratusan warga berdatangan. Tenda-tenda pelayanan berdiri di pinggir lapangan, sementara musik senam dan aktivitas warga membuat suasana desa jauh lebih ramai dari hari-hari biasa.
Hari itu, kantor-kantor pemerintahan Kabupaten Kuningan seolah berpindah sementara ke Desa Subang.
Lewat program Bupati Saba Lembur, pemerintah daerah membawa berbagai layanan langsung mendekati warga. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan sekaligus dipadukan dengan Sinergi Integritas Pelayanan Publik (SIPP) ke-26.
Belasan perangkat daerah membuka layanan di lapangan. Mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, perpajakan daerah, hingga pelayanan perizinan tersedia dalam satu lokasi.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, didampingi Wakil Bupati Tuti Andriani dan Sekretaris Daerah U. Kusmana, ikut meninjau sejumlah stan pelayanan dan berbincang dengan warga.
Bagi Dian, pola pelayanan seperti ini bukan semata soal memindahkan meja pelayanan dari kantor pemerintahan ke desa. Ada persoalan jarak, waktu dan biaya warga yang ingin dipangkas.
“Saya tanya rata-rata mereka merasa terbantu karena pelayanan yang biasanya harus ke ibu kota, sekarang dinasnya yang menjemput bola. Ini bukan hanya pelayanan, tapi sarana silaturahmi dan menangkap aspirasi,” ujar Dian saat meninjau kegiatan.
Bagi warga seperti Ading, 46 tahun, kehadiran layanan pemerintahan di desa terasa sederhana tetapi berarti.
Ia tidak harus menghabiskan waktu dan biaya untuk mendatangi pusat pemerintahan Kabupaten Kuningan hanya untuk mengurus kebutuhan administrasi.
“Sangat terbantu. Selain selesai urusan, kami bisa tahu cara menyampaikan aspirasi lewat kanal laporan digital,” kata Ading.
Ketika Pelayanan Bertemu Ekonomi Warga
Bupati Saba Lembur hari itu bukan hanya tentang dokumen kependudukan atau layanan kesehatan.
Di sisi lain lapangan, tenda-tenda UMKM justru menjadi bagian yang tak kalah menarik. Aroma kopi lokal bercampur dengan wangi gula aren. Produk olahan warga dan wajit khas Subang dipajang berdampingan dengan berbagai hasil bumi desa.
Birokrasi bertemu dengan aktivitas ekonomi masyarakat dalam satu ruang.
Konsep tersebut membuat lapangan desa tidak sekadar menjadi tempat pelayanan sementara, tetapi juga ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produknya kepada warga dan pengunjung.
Menjelang sore, suasana semakin berubah.
Jika pagi hingga siang warga sibuk mengurus administrasi dan memanfaatkan layanan kesehatan, sore hingga malam lapangan desa berubah menjadi ruang hiburan rakyat.
Kesenian Sunda, pementasan Kampung Dongeng, serta penampilan seniman Kang Ohang dan Ceu Popon menjadi bagian dari rangkaian acara.
Tak ada lagi sekat antara meja pelayanan dan masyarakat. Warga yang sebelumnya datang untuk mengurus dokumen kini duduk bersama, menikmati pertunjukan dan hiburan.
Di Desa Subang, peringatan Hari Jadi ke-528 Kabupaten Kuningan akhirnya menemukan bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Bukan sekadar pidato dari atas panggung atau seremoni di gedung pemerintahan.
Hari itu, birokrasi turun ke lapangan.
Dan di atas rumput lapangan sepak bola Desa Subang, jarak antara pemerintah dan warga berusaha dipangkas bukan hanya secara geografis, tetapi juga melalui percakapan, pelayanan dan ruang untuk mendengar aspirasi. ***





