Menurutnya, PMII Kuningan harus bertransformasi menjadi organisasi kader yang mandiri, kritis, dan progresif. Ia menilai bahwa mahasiswa tidak hanya dituntut bersuara lantang terhadap ketimpangan, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi sosial dan pembangunan.
“PMII tidak hanya hadir sebagai gerakan kritis, tetapi juga konstruktif dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat dan daerah,” ujarnya, Senin, (10/11/2025).
Dalam arah geraknya ke depan, PMII Kuningan akan menitikberatkan pada tiga fokus utama, yakni kaderisasi mandiri untuk melahirkan kader berintegritas dan berdaya saing tinggi, reformasi digital sebagai langkah adpatif terhadap perkembangan teknologi dan media, dan penguatan ekonomi organisasi demi kemandirian dan berkelanjutan gerakan.
Aktivis jebolan Unisa Kuningan itu menyebutkan, salah satu langkah konkret yang tengah disiapkan ialah mengoptimalkan jejaring media sebagai ruang ekspresi dan kolaborasi bagi kader.
Menurutnya, sinergi dengan insan media, PMII berkomitmen memperkuat peran mahasiswa dalam menyuarakan isu-isu strategis, mulai dari pembangunan daerah hingga kesejahteraan masyarakat.
”Reformasi digital juga menjadi bagian penting dari strategi gerakan. Melalui pemanfaatan teknologi informasi, PMII ingin menghadirkan wajah baru organisasi mahasiswa yang cerdas, inovatif, dan relevan dengan tantangan zaman,” titurnya.
Dengan semangat sinergi, intelektualitas, dan kemandirian, menurutnya, PMII Kuningan akan menjadi mitra strategis pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan media dalam menciptakan tata kelola pembangunan yang partisipatif, transparan, dan berkeadilan. (Icu)
