KUNINGAN – Goresan krayon dan cat air di atas kertas gambar menjadi saksi bisu lahirnya talenta-talenta muda dari kaki Gunung Ciremai. Memanfaatkan momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, dua siswi asal Sekolah Dasar Negeri (SDN) Unggulan Kuningan sukses mengukir prestasi gemilang dalam Lomba Menggambar Tingkat SD/MI se-Kabupaten Kuningan yang digelar di kawasan cagar budaya Museum Gedung Naskah Perundingan Linggarjati, Kamis (21/5/2026).

Kompetisi seni yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan ini bukanlah laga yang mudah. Mengusung tema reflektif “Aku dan Museumku”, ajang ini menjadi panggung adu kreativitas bagi 94 pendaftar dari berbagai sekolah dasar terbaik di seluruh pelosok Kuningan. Di tengah kepungan puluhan kompetitor, imajinasi dan ketangkasan visual delegasi SDN Unggulan Kuningan justru tampil paling memikat dewan juri.

Dominasi SDN Unggulan Kuningan dibuktikan melalui keberhasilan dua siswinya dalam mengamankan podium juara sekaligus. Syaqilla Azzahra Pasya sukses membawa pulang trofi Juara 2. Menyusul tepat di posisi berikutnya, rekan satu sekolahnya, Mukhbita Khayla Gyani Farza, berhasil mengunci posisi Juara 3.

Atmosfer penyerahan piala di area bersejarah Linggarjati terasa kian emosional ketika istri Bupati Kuningan, Hj. Ela Helayati, S.Sos., naik ke atas panggung untuk menyerahkan langsung penghargaan tersebut. Kehadiran orang nomor satu di jajaran penggerak literasi daerah ini menjadi simbol bahwa karya seni anak-anak bukan sekadar coretan estetik, melainkan representasi cara pandang generasi Z alpha terhadap sejarah bangsanya.

Merespons torehan manis anak didiknya, Kepala Sekolah SDN Unggulan Kuningan, Uus Susanto, S.Pd., M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rasa harunya. Bagi Uus, kemenangan ini merupakan indikator valid dari sehatnya ekosistem pendidikan di sekolah yang ia pimpin, di mana bakat non-akademik diwadahi dengan porsi yang setara.

“Alhamdulillah, ini menjadi kebanggaan besar bagi keluarga besar SDN Unggulan Kuningan. Di tengah persaingan yang luar biasa ketat, anak-anak mampu menunjukkan potensi terbaiknya,” ujar Uus Susanto dengan mata berkaca-kaca.

Ia menambahkan bahwa goresan warna yang membawa kemenangan ini tidak lahir secara instan. Ada proses latihan yang melelahkan, kesabaran para guru dalam memoles teknik menggambar, serta sokongan moral dan doa dari orang tua yang membentuk mentalitas juara kedua siswi tersebut sejak dini.

Kompetisi bertema museum ini juga sekaligus menjadi alarm positif bagi dunia pendidikan di Kuningan. Melalui media seni rupa, anak-anak diajak merekonstruksi kembali memori kolektif bangsa langsung di tempat terjadinya diplomasi besar Indonesia-Belanda tempo dulu. SDN Unggulan Kuningan membuktikan bahwa belajar sejarah tidak selamanya harus terkurung dalam diktat teks yang kaku, melainkan bisa ditarik ke ruang terbuka lewat interpretasi warna dan sketsa yang membebaskan kreativitas anak. ***