Kalau Aku Bicara Terlambat
Tiga hari sejak kedatangan mantan tunangannya, Laras jadi lebih diam. Senyum masih ada, tapi seperti ditempelkan saja. Andra tak pernah bertanya, dan Laras tak pernah menjelaskan. Tapi hening itu seperti api kecil yang perlahan membakar di dalam.
Andra mencoba sibuk. Ia datangi pasar lebih pagi, urus bahan lebih banyak, bahkan mulai pelajari sistem keuangan kafe agar bisa bantu lebih dari sekadar angkut sayur. Tapi setiap ia melihat Laras, dadanya sesak oleh dua hal: rasa yang belum sempat ia ucapkan… dan ketakutan bahwa semuanya bisa hilang begitu saja.
Suatu malam, setelah pelanggan terakhir pulang dan lampu kafe mulai redup, Laras duduk di bangku bar. Matanya merah. Ia menatap langit-langit, lalu berkata pelan:
“Mas… aku dikasih tawaran. Buka kafe di Bandung. Dibiayai penuh. Dari orang itu.”
Andra menelan ludah. Lama ia diam.
“Aku tahu dia datang bukan cuma mau minta maaf.”
Laras mengangguk. “Tapi aku juga nggak yakin kenapa aku masih diem di sini.”
Andra berdiri di depan Laras. Tangannya gemetar, seperti ingin menggenggam, tapi tertahan oleh ketakutan yang bertahun-tahun membatu.
“Aku bukan siapa-siapa, Ras. Aku nggak bisa janji bikin hidup kamu mudah. Tapi aku juga nggak pernah pura-pura. Setiap hari di sini… itu jujur. Dan kamu satu-satunya orang yang lihat aku, bukan bekas bangkrutanku.”
Laras menatapnya, pelan.
“Aku nggak tahu kamu butuh apa. Tapi kalau kamu butuh alasan buat tinggal…”
Andra berhenti. Suaranya tercekat.
“…aku.”
Keheningan mengambang. Laras menunduk, wajahnya tak bisa ditebak.
“Kenapa baru sekarang, Mas?”
Andra menahan napas.
“Karena aku baru berani. Tapi kadang, keberanian datang setelah semua jalan hampir tertutup.”
Tinggal Tanpa Tetap
Laras pergi.
Bukan dengan drama air mata, bukan dengan pelukan panjang atau ciuman di bawah hujan seperti di film-film. Ia hanya mengepak ransel kecil, meninggalkan daftar supplier, dan selembar surat di meja dapur.
“Andra, aku tinggal bukan karena aku nggak percaya kamu. Tapi karena aku belum selesai dengan diriku sendiri. Kita sama-sama patah — tapi aku takut kalau kita bertahan hanya karena sama-sama takut sendiri. Aku ingin tahu, apa yang akan terjadi… kalau aku benar-benar memilih diriku dulu.”
Andra membaca surat itu tanpa suara. Tapi hatinya berteriak.
Hari-hari setelah itu terasa aneh. Dapur kafe tetap panas. Pembeli tetap datang. Tapi tidak ada lagi suara Laras memarahi oven yang meledak kecil, atau tawa pelan saat mereka rebutan sendok. Hening sekarang bukan soal tidak ada suara—tapi karena yang dulu pernah hidup, kini menghilang.
Beberapa orang bertanya, “Mbak Laras ke mana?”
Andra hanya jawab, “Ada urusan di luar kota.”
Suatu malam, ia duduk di bangku bar tempat Laras biasa duduk. Ia menyalakan lampu temaram dan membuka handphone. Jari-jarinya membuka folder “Konsep Menu Baru” — tempat di mana Laras dan dia sering mencoret-coret ide dengan tawa dan kopi dingin.
Lalu ia kirim satu pesan.
“Hari ini ada pelanggan minta menu ‘Nasi Gulung Tahu’ yang kamu ciptakan. Aku bilang, itu menu favorit pemilik kafe ini. Mereka senyum. Tapi aku enggak. Aku kangen.”
Tidak ada balasan malam itu. Tapi Andra tahu, mungkin itu bukan tentang balasan.
Mungkin ini tentang rasa yang cukup untuk disimpan, meski tak sempat jadi milik.
Epilog
Beberapa bulan kemudian, Laras kembali. Tapi bukan untuk tinggal — hanya untuk membeli satu porsi nasi gulung tahu, duduk diam di pojok kafe, lalu pergi dengan senyum kecil.
Dan Andra? Ia tidak mengejar.
Karena kadang, orang yang paling kita cintai, adalah orang yang harus kita lepas… supaya mereka benar-benar bisa pulang, suatu hari nanti — dengan versi terbaik dari dirinya.
Hanya Fiksi Sambil Ngopi By Bengpri
