KUNINGAN — Di Bale Waluya, sebuah bangunan yang menjadi saksi bisu tumbuh kembang anak-anak istimewa di Desa Sampora, Kecamatan Cilimus, suasana Kamis siang, (8/1/2026), terasa emosional. Peringatan Dies Natalis ke-31 Yayasan Taruna Mandiri dan ke-18 SLBN Taruna Mandiri bukan sekadar perayaan angka, melainkan refleksi dari sebuah tekad yang bermula dari keresahan personal hingga menjelma menjadi episentrum vokasi disabilitas di Jawa Barat.
Bupati Kuningan, Dr. Dian Rachmat Yanuar, yang hadir di tengah para siswa dan pengajar, menyebut lembaga ini sebagai anomali yang indah dalam dunia pendidikan. Baginya, Yayasan Taruna Mandiri adalah bukti otentik bahwa ketulusan yang dirawat puluhan tahun dapat bertransformasi menjadi struktur sosial yang kokoh dan bermanfaat luas.
“Pak Elon dan Bu Kokoy membuktikan bahwa membangun lembaga bagi penyandang disabilitas bukan soal megahnya gedung, melainkan keberanian membangun harapan. Keteguhan dan keikhlasan mereka telah melahirkan masa depan bagi anak-anak yang sering kali terlupakan,” ujar Dian dalam sambutannya.
Napas panjang yayasan ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Dr. Carlan atau yang lebih karib disapa Elon. Sejarah mencatat, benih yayasan ini ditanam pada 8 Januari 1995. Setahun sebelumnya, Elon menyabet penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional. Alih-alih menggunakan prestasi itu untuk kepentingan karier pribadi, ia memilih mendirikan lembaga pendidikan sebagai apa yang ia sebut “hadiah hidup”.
Bersama sang istri, Kokoy Kurniawati, Elon merintis sekolah luar biasa (SLB) yang kini akarnya telah menjalar ke berbagai pelosok. Jaringannya membentang dari SLB Pangeran Cakrabuana di Cirebon hingga SLB Perbatasan di Cibingbin. Bahkan, sebagai bentuk pengabdian total, empat SLB telah ia hibahkan kepada pemerintah untuk dikelola secara negeri.
“Yang kami kejar bukan kemewahan, tapi kebermanfaatan. Keterbatasan bagi kami itu tanpa batas, ability to infinity,” cetus Elon. Kalimat tersebut bukan sekadar jargon, melainkan filosofi yang ia tanamkan kepada para siswanya agar tidak merasa kerdil di tengah keterbatasan fisik maupun mental.
Memasuki usia ke-31, SLB Taruna Mandiri melakukan lompatan strategis. Lembaga ini tidak lagi hanya fokus pada literasi dasar bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi telah bertransformasi menjadi sentra vokasi. Orientasinya jelas yaitu kemandirian ekonomi.
Kurikulum yang diterapkan diarahkan pada keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan pasar. Hasilnya mulai terlihat; sejumlah alumni kini telah terserap di sektor perhotelan, ritel modern, hingga industri padat karya. Sebagian lainnya memilih jalan wirausaha mandiri, membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk menjadi produktif.
Ketekunan ini membuahkan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sekretaris Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Deden Saepul Hidayat, mengungkapkan bahwa SLB Taruna Mandiri berhasil meraih peringkat kedua dalam ajang bergengsi Gapura Panca Waluya. Hadiahnya pun tak main-main yaitu kucuran sarana dan prasarana senilai Rp1,5 miliar dari Gubernur Jawa Barat untuk memperkuat fasilitas pendidikan di sana.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, keberadaan Taruna Mandiri adalah mitra strategis dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Bupati Dian Rachmat menegaskan bahwa investasi terbaik sebuah daerah adalah investasi pada manusia, tanpa memandang kesempurnaan fisik.
Di usia tiga dekade lebih ini, Taruna Mandiri berdiri tegak sebagai ruang pembuktian. Ia mengingatkan publik bahwa keterbatasan, jika dipertemukan dengan ketulusan dan sistem pendidikan yang tepat, justru dapat melahirkan daya yang melampaui batas-batas normalitas. Dari Sampora, pesan itu menggema bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki hak untuk mandiri dan bermartabat. (ali)
