Memasuki usia ke-31, SLB Taruna Mandiri melakukan lompatan strategis. Lembaga ini tidak lagi hanya fokus pada literasi dasar bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi telah bertransformasi menjadi sentra vokasi. Orientasinya jelas yaitu kemandirian ekonomi.
Kurikulum yang diterapkan diarahkan pada keterampilan kerja yang relevan dengan kebutuhan pasar. Hasilnya mulai terlihat; sejumlah alumni kini telah terserap di sektor perhotelan, ritel modern, hingga industri padat karya. Sebagian lainnya memilih jalan wirausaha mandiri, membuktikan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk menjadi produktif.
Ketekunan ini membuahkan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Sekretaris Dinas Pendidikan Jabar, Dr. Deden Saepul Hidayat, mengungkapkan bahwa SLB Taruna Mandiri berhasil meraih peringkat kedua dalam ajang bergengsi Gapura Panca Waluya. Hadiahnya pun tak main-main yaitu kucuran sarana dan prasarana senilai Rp1,5 miliar dari Gubernur Jawa Barat untuk memperkuat fasilitas pendidikan di sana.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, keberadaan Taruna Mandiri adalah mitra strategis dalam meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM). Bupati Dian Rachmat menegaskan bahwa investasi terbaik sebuah daerah adalah investasi pada manusia, tanpa memandang kesempurnaan fisik.
Di usia tiga dekade lebih ini, Taruna Mandiri berdiri tegak sebagai ruang pembuktian. Ia mengingatkan publik bahwa keterbatasan, jika dipertemukan dengan ketulusan dan sistem pendidikan yang tepat, justru dapat melahirkan daya yang melampaui batas-batas normalitas. Dari Sampora, pesan itu menggema bahwa setiap anak, apa pun kondisinya, memiliki hak untuk mandiri dan bermartabat. (ali)
