
KUNINGAN — Kabupaten Kuningan kembali bersiap menyambut dentingan pedal dan gemuruh roda sepeda dari para atlet balap nasional dan internasional. Ajang tahunan Tour de Linggarjati (TDL) edisi ke-8 akan digelar pada 12–14 September 2025, mengusung tema “Raga Sehat, Alam Terawat, Kuningan Melesat.”
Bukan hanya kompetisi, TDL telah menjelma menjadi wajah promosi sport tourism Kuningan, menggandeng pesona alam, semangat warga, dan geliat ekonomi lokal dalam satu helaan napas.
“TDL bukan hanya adu kecepatan, tapi momentum menampilkan wajah terbaik Kuningan kepada Indonesia,” ujar Ketua Panitia, dr. Yanuar Firdaus.
Tahun ini, panitia merancang rute sepanjang 111 kilometer, menyusuri 17 kecamatan, mulai dari kawasan pegunungan, jalan kota, hingga perdesaan. Wilayah yang akan dilintasi antara lain Kuningan, Cigugur, Kadugede, Nusaherang, Darma, hingga Garawangi. Jalur ini disebut menawarkan tantangan teknis yang variatif, sekaligus panorama khas kaki Gunung Ciremai.
“Rute ini memperluas cakupan peserta menjelajah Kuningan secara utuh,” kata Yanuar.
Tour de Linggarjati 2025 menghadirkan tiga kategori lomba:
- Individual Road Race (IRR) – kategori utama dengan tiga subkelas: pra youth, youth, junior, elite, dan master. Jarak tempuhnya bervariasi: 30,7 km, 55,7 km, hingga penuh 111 km.
- Criterium Race – digelar di pusat kota, memakai sirkuit 2,9 km per putaran.
- Fun Bike – sepeda santai terbuka untuk umum, menempuh rute 20 km dari Jalan Siliwangi hingga Taman Kota.
Kategori ini dirancang tak hanya untuk atlet profesional, tapi juga bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam semangat kebugaran kolektif.
Peserta TDL 2025 tidak hanya datang dari wilayah Jawa Barat. Beberapa pebalap dari provinsi lain dan luar negeri telah mendaftarkan diri. Sebuah capaian tersendiri bagi Kuningan yang mulai dikenal dalam kalender balap sepeda nasional.
Masyarakat sepanjang rute diminta ikut ambil bagian. Tidak hanya menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan, tapi juga menunjukkan wajah keramahan khas desa-desa di kaki Ciremai.
Bagi Pemerintah Kabupaten Kuningan, TDL bukan sekadar event olahraga. Ia menjadi instrumen promosi daerah, penggerak UMKM, dan media diplomasi pariwisata.
“TDL adalah jembatan antara tubuh yang sehat dan ekonomi yang bergerak,” ujar dr. Yanuar.
Ajang ini juga dipadukan dengan bazar produk lokal, festival kuliner, dan penampilan budaya di sepanjang etape. Harapannya, kunjungan wisatawan tak hanya datang, tapi tinggal lebih lama, belanja lebih banyak, dan bercerita lebih luas.
Di tengah gempuran digitalisasi dan urbanisasi, Kuningan memposisikan TDL sebagai ruang jeda tempat publik kembali pada raga, pada alam, dan pada kebersamaan.
Jika sepeda melaju dengan irama konstan, maka Kuningan berharap tetap melesat dalam irama pembangunan yang inklusif.
“Bukan hanya finish line yang dituju, tapi masa depan yang dibentuk,” tutup dr. Yanuar. (ali)





Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.