KUNINGAN – Usia empat tahun merupakan masa emas dalam tumbuh kembang anak. Perkembangan otaknya bergerak cepat merespon apa saja yang terjadi di lingkungannya. Tetapi, hal itu tidak terjadi pada, ARA (4), warga Ciwaru, Kuningan.
Sejak usia enam bulan, ARA sudah harus berjuang melawan penyakit yang mengidapnya. Tumbuh kembangnya bukan di taman kanak-kanak, gang kampung, madrasah, atau alun-alun desa, tapi dari rumah sakit ke rumah sakit. Sampai saat ini, ARA tercatat 8 kali dirawat di RS wilayah Kuningan dan 13 kali di Cirebon.
“Sudah empat kali masuk ruang PICU. Sejak Juni hingga Agustus 2024, ARA telah menjalani empat kali operasi, dan secara keseluruhan sudah lima kali operasi sejak awal sakit,” tutur Diah Rodiana, ibunda ARA, dengan nada lirih, Minggu, (28/12/2025).
Pengobatan ARA sudah dilakukan secara intensif. Selain mengobati kista di kepala (hidrosefalus), ia juga harus berjuang memulihkan cerebral palsy atau lumpuh otak, epilepsi, serta stroke di bagian tubuh sebelah kiri. “Sakitnya sejak usia enam bulan, tapi (sakit secara menyeluruh) baru ketahuan akhir-akhir ini. Kami menyesel karena baru ketahuan sekarang. Padahal katanya kista itu sudah ada sejak kecil,” ujarnya.
Kondisi sang anak, lanjut Diah, awal diketahui ketika sering mengalami kejang di usia 2 tahun 7 bulan. Karena keterbatasan ekonomi, gejala tersebut tidak sempat diperiksa secara menyeluruh, apalagi sampai dilakukan CT Scan.
Akibat penyakitnya itu, ARA kini hanya bisa terbaring di atas kasur. Tak bisa bergerak bebas seperti umumnya anak seusianya. Untuk beraktivitas keluar rumah, ia hanya mengandalkan gendongan ibunya. Ia bisa berbicara, tapi karena mengalami gangguan saraf, kata-katanya sangat terbatas.
“Kata dokter, kalau terapi cerebralpalsy-nya rutin, ada kemungkinan membaik. Kalau itu sembuh, stroke-nya juga bisa ikut membaik,” ungkapnya penuh harap.
