KUNINGAN – Ratusan pesilat muda dari berbagai daerah di Jawa Barat berkumpul di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Kuningan. Sejak Jumat (1/5/2026), kampus merah marun itu menjadi gelanggang persaingan dalam Kejuaraan Daerah (Kejurda VIII) Tapak Suci.
Sebanyak 325 peserta dari jenjang SD hingga SMA ambil bagian, menjadikan ajang tersebut bukan hanya ramai, tetapi juga kompetitif sejak hari pertama.
Selama tiga hari, para atlet akan saling menguji kemampuan teknik, ketahanan fisik, hingga mental bertanding dalam perebutan Piala Rektor. Namun, atmosfer yang terbangun menunjukkan bahwa kejuaraan tersebut lebih dari sekedar adu prestasi.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kuningan, Dadan Rahmatun Ramdhan, menekankan bahwa Tapak Suci merupakan ruang pembinaan kader. Ia melihat setiap peserta sebagai bagian dari proses panjang mencetak generasi yang tidak hanya tangguh di arena, tetapi juga memiliki arah dalam kehidupan.
Oleh karena itu, ia mendorong para atlet berprestasi, khususnya dari jenjang SMK, untuk melanjutkan pendidikan melalui skema beasiswa di Universitas Muhammadiyah Kuningan.
Komitmen tersebut diperkuat oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Kuningan, Dr. Wawang Anwarudin. Ia menegaskan bahwa kampus membuka ruang seluas-luasnya bagi atlet untuk berkembang, tidak hanya di bidang akademik, tetapi juga dalam potensi nonakademik.
”Prestasi olahraga merupakan bagian penting dari pembentukan karakter mahasiswa,” ujarnya
Di sisi lain, dukungan pemerintah daerah menjadi sinyal bahwa olahraga pelajar masih dipandang sebagai instrumen strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriyani yang hadir dalam acara itu menilai bahwa Kejurda Tapak Suci sebagai momentum penting untuk mendorong pelajar terus berprestasi sekaligus memiliki orientasi pendidikan jangka panjang.
”Saya mengapresiasi penyelenggaraan Kejurda ini. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga membentuk karakter disiplin, sportivitas, dan semangat juang para pelajar,” ujarnya.
Ia juga berharap, kegiatan itu melahirkan atlet-atlet muda potensial yang tidak hanya berprestasi di tingkat daerah, tetapi mampu bersaing hingga tingkat nasional bahkan internasional.
Selain itu, Kejurda tersebut juga menjadi panggung konsolidasi pendidikan Muhammadiyah di Kuningan. Keterlibatan sekolah dan pondok pesantren, serta eksistensi SMK Muhammadiyah 1, 2, dan 3 Kuningan, menunjukkan bahwa pembinaan olahraga berjalan beriringan dengan penguatan ekosistem pendidikan.
Penulis: Icu Firmansyah || Editor: Sopandi
