KUNINGAN – Kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Ciniru, Kecamatan Jalaksana, tidak hanya menyisakan persoalan kepulan asap dan penanganan api. Di balik kobaran yang belum sepenuhnya padam, ada warga yang harus kehilangan sementara sumber penghasilan karena tidak dapat beraktivitas di lokasi.

Bagi para pemulung, TPSA Ciniru bukan sekedar hamparan timbunan sampah. Tempat tersebut menjadi ladang penghidupan, tempat mereka mengumpulkan barang-barang bekas yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah satunya, Yani, warga setempat yang sehari-hari menggantungkan mata pencahariannya dari aktivitas memilah barang bekas di TPSA Ciniru. Menurutnya, kondisi darurat akibat kebakaran membuat para pemulung memilih menghentikan aktivitas hingga situasi kembali aman.

“Aktivitas dulu libur. Soalnya lagi darurat, nunggu ini mereda dan membaik, baru kerja lagi,” ujarnya, Rabu (12/8/2026).

Ia memperkirakan para pemulung harus berhenti bekerja selama satu hingga tiga hari, tergantung kondisi di lokasi. Bagi Yani, penghentian aktivitas tersebut tentu berdampak langsung terhadap pendapatan keluarga karena TPSA Ciniru selama ini menjadi tempat mencari nafkah.

“Soalnya ekonominya di sini, kerjanya di sini, tempat mata pencahariannya di sini. Ladang pencaharian,” katanya.

Yani mengaku kebakaran kali ini bukan yang pertama terjadi. Ia menyebut, sebelumnya kebakaran juga pernah terjadi, namun tidak separah kondisi saat ini.

“Sudah dua kali. Yang waktu dulu tidak separah ini. Sekarang ini lebih parah,” ungkapnya.

Kondisi asap tebal yang muncul akibat kebakaran juga membuat aktivitas di sekitar lokasi semakin berisiko. Yani menyebut, api mulai terlihat sejak dini hari, sekitar pukul 01.00–02.00 WIB, Rabu, (12/8/2026). Bahkan, mobil pemadam kebakaran telah terlihat mondar-mandir melakukan penanganan sejak malam.

Terkait dugaan penyebab kebakaran, Yani menduga api dapat dipicu oleh gas yang berasal dari timbunan sampah. Ia juga menyinggung kemungkinan adanya benda seperti korek gas yang terbakar dan kemudian memicu ledakan kecil hingga api menyebar.

Namun, dugaan tersebut masih sebatas penilaian warga dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab kebakaran. Penyebab pasti kebakaran tetap menunggu hasil pemeriksaan pihak berwenang.

Kondisi serupa juga dirasakan Sani’ah, salah seorang pemulung yang telah mengenal aktivitas mengais barang bekas di TPSA tersebut selama sekitar 20 tahun. Meski demikian, ia mengaku tidak setiap hari datang ke lokasi.

“20 tahunan,” kata Sani’ah ketika ditanya sudah berapa lama menjadi pemulung.

Sani’ah menjelaskan, dirinya biasanya mengumpulkan barang bekas terlebih dahulu sebelum menjualnya kepada bandar. Karena itu, penghasilannya tidak diperoleh setiap hari.

“Saya jarang. Dikumpulkan dulu, baru kalau udah banyak dijual,” ujarnya.

Menurutnya, penghasilan dari memulung pun relatif kecil. Dalam beberapa hari, hasil yang didapat terkadang hanya sekitar Rp100 ribu, tergantung jumlah barang yang berhasil dikumpulkan dan harga jualnya.

“Paling dapet 100 ribu sehari, kadang-kadang lima hari,” tuturnya.

Kebakaran membuat penghasilan dari aktivitas tersebut semakin sulit didapat. Bahkan, menurut Sani’ah, aktivitas menjual barang bekas ke bandar juga tidak dilakukan setiap hari.

“Paling dua hari dijualnya ke bandar,” katanya.

Ia pun mengakui bahwa ketika kebakaran terjadi, praktis tidak ada penghasilan yang bisa diperoleh dari aktivitas memulung. “Tidak ada penghasilan,” ucapnya.

Selain kehilangan sumber penghasilan, dampak kebakaran juga dirasakan warga yang tinggal di sekitar TPSA. Sani’ah yang berasal dari Desa Nanggerang menyebut asap kebakaran dapat terbawa angin hingga ke kawasan permukiman.

Menurutnya, arah angin yang berubah-ubah membuat asap dan bau dari TPSA dapat menjangkau wilayah sekitar. “Asapnya lumayan tebal karena terbawa angin yang kencang juga,” katanya.

Kondisi tersebut menggambarkan bahwa dampak kebakaran TPSA Ciniru tidak berhenti di dalam kawasan pembuangan sampah. Asap dan bau turut mengganggu warga di sekitar, sementara para pemulung kehilangan kesempatan untuk mencari penghasilan.

Di tengah kondisi tersebut, Yani berharap pemerintah dapat memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang. Bukan hanya demi keselamatan warga dan petugas, tetapi juga demi keberlangsungan hidup para pemulung yang menggantungkan penghasilan dari TPSA.

“Semoga ke depannya enggak kayak gini lagi. Sudah dua kali. Mudah-mudahan enggak terjadi lagi, ke depannya lebih baik lagi. Semoga selamat, enggak ada apa-apa,” harapnya.

Hingga kini, kebakaran TPSA Ciniru masih belum sepenuhnya padam. Memasuki hari keempat, petugas masih berjibaku melakukan penanganan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap maupun bara.

Kondisi tersebut membuat para pemulung harus menahan diri untuk kembali bekerja. Mereka memilih menunggu sampai lokasi dinyatakan aman, meski keputusan tersebut berarti kehilangan pemasukan untuk sementara waktu.

Bagi Sani’ah dan Yani, tumpukan sampah di TPSA Ciniru mungkin terlihat sebagai sesuatu yang tidak bernilai bagi sebagian orang. Namun, dari sanalah mereka mendapatkan barang yang bisa dijual dan menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Oleh karena itu, kebakaran bukan hanya persoalan api dan asap. Ada mata pencaharian warga yang ikut terbakar oleh keadaan, ada pendapatan keluarga yang terhenti, dan ada harapan agar tempat yang selama ini menjadi ladang penghidupan itu kembali aman untuk digunakan.